Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2017

Janji?

Aku tau. Aku tak boleh menaruh titik curiga pada sosok kamu, tak seharusnya. Sedikit saja kutambahkan butirnya, sudahlah, tak akan lagi sama.

Kamu, dengan logat khas ngotot-mu matimatian mencoba meyakinkan aku, si gadis lugu yang dengan bodohnya benar-benar sedang diambang cinta. Aku, diam saja, mengiyakan setengah mengira-ngira. Kuyakinkan diriku setengah mati, supaya seperti ucapanmu, kita tetap seperti ini.

Namun, hati bukanlah batu, sayang. Hatiku juga punya sudut, dimana aku, si gadis lugu ini juga punya rasa heran, heran akan tingkah lakumu yang semakin lama tak mampu kuresapi dengan akal sehatku. Heran dengan segala bisik sana sini yang semakin lama menghasut pikir baikku tentang kamu, tentang kita.

Mungkinkah?

Aku masih terdiam, tenggelam dalam selimut abu-abuku. Pikirku menerawang. Tentang luasnya duniamu yang tak akan pernah bisa kuraih satu per satu. Duniaku yang sangat sempit, dekat dalam pandangmu, sedang duniamu sangat jauh dari pandangku.

Sejenak, aku meragu. Tentang kata yakin yang kudefinisikan sebagai janji.

Kupejamkan mataku, mencoba menghilang dari semakin rumitnya basa basi tentang cinta. Mencoba supaya seperti yang kau bilang, ini bukan satu-satunya. Tapi, pikirku tak sesempit itu, sayang. Aku kecil-diantara kerumunan pertanyaan dalam benakku.

Apa yang kamu coba lakukan lagi untukku?

Seberapa lama kamu perlu mengenal aku? Supaya kamu bisa menelisik pola pikirku?

Aku masih saja diam. Larut dalam hati yang setengah menangis setengah meredam. Ingin, aku buncahkan segala rasa sesak ini, supaya tak lagi aku tersesat keluar dari pertanyaan pertanyaan bodoh itu.

Tapi, masih saja semuanya menggelayut dalam benakku. Kamu, selalu berusaha mengerti aku, tapi tak benar benar sekalipun kamu melakukannya. Aku benci kebohongan, sayang. Jangan biarkan aku larut dalam kata-kata manis apapun. Aku mau tahu tentang semuanya, semua tentang mu yang aku ingin ketahui, semua tentang kamu yang coba kamu simpan supaya tak jadi luka untukku.

Bicaralah. Katakan dengan logat khasmu. Yakinkan aku supaya aku tak menaruh curiga ini lagi buatmu.

Aku lelah. Aku butuh jawaban. Atas kata yakin yang telah aku definisikan dengan janji, yang semakin lama semakin pudar. Hilang, bersama kenangan itu sendiri.

-untuk yang selalu menyesakkan dengan pertanyaan tak penting, aku benar merindukanmu-

Kamis, 24 Maret 2016

Kisah-ku (kita)

Kamis malam. sunyi. 

Aku merogoh kembali selimut cokelat-ku, membenamkan wajahku kedalamnya, supaya tak terasa lagi sentuhan dingin enam belas derajat yang kusetel. Aku mencoba memejamkan mataku, supaya segera tenggelam dalam mimpi, supaya pergi sebentar dari realita, supaya bisa bertemu lagi dengan sosok itu. Tapi yang kudapati adalah langit-langit kamar ini lagi. Aku belum bisa tidur. Aku belum bisa bertemu sosok itu. Atau aku yang memang sama sekali tak diijinkan menemuinya. 

Aku bangkit. Meraih telepon genggam yang sudah kuletakkan jauh-jauh dariku tadinya. Menyentuh beberapa sudut benda itu dengan harap menemukan sebuah pesan atau apapun dengan namanya. Lagi, kan? Lagi-lagi dia. 

Aku mencoba menyentuh kembali beberapa sisi benda itu, setelah tak kudapati apapun tanda-tanda kehadirannya. Kubalas beberapa pesan-pesan lain, mencoba mengisi kekosongan malam ini. Setidaknya aku tidaklah kesepian. Kuraih headset yang kuletakkan tepat dimeja belakangku sembari mencari alunan apa yang hendak kudengar. Kuputuskan memilih lagu itu.

Kudengar sebuah musik disana, untaian kata-kata yang terucap dari seseorang disana, indah, tapi sakit. Entah aku yang terlalu bodoh atau aku yang tidak pernah lelah menjadi bodoh, aku tak tahu. Aku seolah menambah beban dipundakku, seolah mengoyak ingatanku kembali, Kemana ya, sosok itu? pikirku dalam batin.

Tanpa sadar, aku turut melantunkan kata-kata diujung sana, seolah berduet dengan sang penyanyi disana. Menyanyi layaknya lagu itu memang diperuntukkan kepada kisah ku (kita). Sampai tuts piano terakhir berbunyi, barulah aku tersadar dari lamunanku. Aku baru saja menitihkan air mata. 

Aku menghela nafas panjang. Seolah tahu akan perasaanku, benda itu kini mencoba menghiburku. Tak ada lagi kata-kata lirih yang mungkin menambah bulir air mataku saat ini. Yang ada adalah ribuan kata yang terucap dengan cepat ditambah musik yang menggebu-gebu. Seolah memberiku secercah semangat, supaya aku tak lagi larut dalam kesedihan malam ini.

Aku tersenyum. Kali ini, kurebahkan kembali tubuhku dan memejamkan mataku perlahan. Satu. Dua. Belum sampai tiga detik, aku mendengar sebuah dering singkat. Aku segera membuka mataku sambil mengerenyitkan dahi dan mengutuk bunyi yang coba menganggu tidurku malam ini itu. Kembali, perlahan dengan beberapa ketukan, aku membuka pesan singkat yang baru saja kukutuk itu. Sebelum kembali mengutuk untuk yang ketiga kalinya, aku terdiam sesaat. Tidak. Lebih dari sesaat. Bahkan hentakan musik ditelingaku seolah tak kunjung datang. 

Kenapa harus ada sosok itu? Aku tak tahu harus senang atau sedih. Selalu begini. Bukan pertama atau kedua kali ini terjadi. Selalu, setelah aku melepas, aku kembali dihampiri. Sampai kapan? Aku, manusia biasa, punya rasa jenuh, punya hati, punya rasa sakit. Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti mendapati pupuk setelah tanamannya mati, kau tahu?

Sebenarnya, apa yang sedang kurasakan ini, apakah kau rasakan juga? Aku meragu. Kupererat genggamanku pada benda itu sembari menerawang pikiran-mu yang tak pernah bisa kujamah. Sampai kapan? Sampai dimana lagi aku kau bawa dalam dunia angan-angan tak jelas ini? Beritahu aku. Supaya aku tahu kapan aku harus berhenti, supaya aku tahu pula akhir dari kisah ku (kita) ini. -m-

Rabu, 01 Juli 2015

Kala Rindu Menggema

Kopi yang kuseruput sahur tadi masih sedikit membekas di tenggorokan, pahit. Subuh ini, kembali kusapa Dia, dengan nama-nama-Nya, kulantunkan kata demi kata harapanku. Aku terpejam dalam keheningan subuh-kembali memimpikan apa yang tak kan pernah terjadi dalam realita..
Dalam mimpiku, aku bertemu dengan dia.. sosok yang menghilang seiring dengan hujan. Semuanya terasa kemarau.
Kubenamkan senyum dalam mimpi untuk sosok dia. Dengan setelan putih abu-abu, dia menyapaku, memberikan untaian kata-kata ditengah berisiknya hujan kala itu. Aku sayup sayup mendengar yang ia katakan, tanpa menjawab ucapannya, kubenamkan senyuman diwajahku sebelum punggungnya menghilang dalam bola mataku.

Hilang.

Gaduhnya suara benda itu menyadarkanku dari mimpi kecil tadi. Kusentuh benda itu dibeberapa tempat sebelum akhirnya suara gaduh itu hilang. Aku memerhatikan benda itu, berharap bunyi sahutan burung akan muncul dengan membawa pesan singkat sekadar ucapan selamat pagi atau semangat.


Kosong.


Tak satupun yang menghiasi benda itu, benda itu kini sunyi senyap. Kupandangi benda itu sesaat sambil melayangkan otakku dihujan kala itu.Kala itu, Dia mempertemukan aku dengan sosok yang sangat takkuduga. Aku selalu tersenyum kala ia merasuk dalam otakku. Kehangatan hujan bulan Desember lalu selalu jadi alasan mengapa aku menyukai hujan dan ... dia.
Seperti hujan, dia datang tiba tiba. Menuai benih benih kebahagiaan dalam jiwa yang hampa tak bernyawa.


Rupanya, langit yang gelap oleh tangisan alam membawaku pada rasa ini. Dimana raga ini sama sekali tak merasakan dingin meski hujan, dimana hati ini padat oleh sayap kupu-kupu. Saat itulah aku tersadar bahwa tak semua yang terlihat kelam itu menyesakkan. Berkat hujan-lah semuanya terjadi. Semua yang membuatku jatuh hati pada hujan.


Jatuh.


Lagi dan lagi, aku jatuh.
Kali ini langit tak sekelam yang lalu, merdunya kicauan burung dan sayup sayup suara angin tengah menghiasi telingaku. Tapi, kenapa sekujur tubuh ini malah terasa seperti bongkahan es? Kenapa hati ini malah terasa hampa ketika mata malah melihat padatnya hiasan langit kala itu?


Hampa


Musim hujan telah berganti menjadi kemarau. Sama seperti hati yang berganti menjadi mati. Hanya beberapa saat, sebelum semua berakhir. Hidup benar benar seperti sebuah roda. Hatiku berkecamuk penuh kebencian dengan roda yang membawa hatiku ke titik ini. Aku terlalu senang sampai ditik ini sampai-sampai aku tak sadar kalau aku baru saja jatuh. Roda itu tak kuat lagi berputar dengan cepat, semuanya berhenti dan berganti. Seperti hujan yang hilang ditelan kemarau, hatiku kering dan gelap bagai sumur yang buntu. Aku taktahu harus berpijak kemana. Aku hilang arah dan mencoba mencari celah celah untuk kembali berdiri namun tak satupun yang datang menopangku.


Semuanya hilang seketika.


Aku terbangun dari lamunanku. Kaki kananku mendahului kaki kiri melangkah menuju muka jalan. Duduk ditepian kursi putih taman kecil sambil sesekali merentangkan kedua tangan mencoba menikmati sejuknya pagi kemarau. Mencoba menghentikan nurani yang sejak lalu menggebu gebu ingin bertemu hujan di bulan Juni.

-untuk hujan yang benar benar tak mau menemuiku di bulan Juni, maka izinkanlah aku yang menghujani bulan Juni.



Jumat, 26 Juni 2015

WHO AM I ?

[Diikutkan untuk Ramadhan Giveaway dengan tema "Find The Right"]

15 Januari 2013

Aku tersentak kaget. Puluhan mata tertuju padaku.
“Kamu…?” sahut seorang laki-laki dengan seragam paling berantakan diantara yang lainnya.
“Gisel!!” sahut yang lain lagi disebelah sana.
Aku hanya terdiam sementara mereka sibuk berbisik satu sama lain. Aku mencoba menerka apa yang jadi bahan pembicaraan mereka tapi otakku terlalu dangkal.
“Hah???” sentak seorang perempuan yang baru masuk dan menjatuhkan tumpukan buku yang dia bawa. Ia berkacamata-dengan tatanan rambut yang lebih mirip Dora The Explorer, dengan seragam yang sangat rapi bak tak pernah tersentuh, dan sepatu kets putih yang sangat mengkilap, kuberi dia nilai 9 untuk kerapiannya.
Aku bingung apa yang harus kulakukan. Seisi kelas 2-D sepertinya sangat tak mengharapkan keadaanku. Entah apa yang salah dariku, bahkan tak satupun ucapan mereka yang dengan jelas dicerna telingaku.
Seorang perempuan masuk dan menenangkan murid-murid.
“Anna, coba perkenalkan diri dulu.” perintahnya tak lama setelah kelas mulai terlihat tenang.
“Hai.. Namaku Anna, Anna Pierre. Kuharap kedatanganku disini sama sekali tak menjadi beban buat kalian.” sapaku diiringi senyuman yang tak kutahu apakah terlihat tulus atau ketus.
“Ah, tak bisa kupercaya.”.. “Dia bilang namanya Anna?”… “Dia hidup lagi!”
Aku terperangah. Kata-kata terakhir yang terngiang ditelingaku agak mengagetkan. Pasti ada sesuatu denganku.
“Anna, dulu dikelas ini ada seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan kamu, namanya Gisel, tapi ia sudah meninggal saat kemah dua bulan yang lalu. Jadi tolong kamu maklumi ya, mereka mungkin sedikit kaget.” Ibu Irene mencoba menjawab pertanyaan yang sedari tadi tak juga aku lontarkan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kamu dari mana?” suara itu terdengar dari laki-laki yang diujung sana. Semua mata kini tertuju pada laki-laki itu. Aku tak tahu seperti apa sebenarnya kelas ini. Mereka terlihat membingungkan.
“Aku pindahan dari salah satu sekolah swasta di Jogja.” jawabku santai mencoba mengabaikan tatapan aneh dan kaget mereka.
Hampir 15 menit aku berdiri disana, sebelum akhirnya aku duduk disebelah perempuan yang kuberi nilai 9 tadi.
“Hai..” sapaku singkat.
Dia hanya menoleh dan tersenyum sedikit kepadaku.
“Anna, kenapa kamu bisa pindah kesini?” tanya seorang perempuan dibelakangku.
“Bulan lalu, panti asuhan tempat-ku tinggal kena musibah. Kebakaran, jadi kami hanya mengandalkan dana saluran dari masyarakat, tapi masih kurang. Sampai akhirnya datang seorang wanita menawarkan menjadi donator panti asalkan kami mau pindah ke Bandung. Jadi Ibu panti kami memutuskan untuk pindah kesini.” ceritaku yang didengar seksama olehnya. Tidak. Tidak hanya dia, seisi kelas bahkan mendengarnya.
“Kalau gitu, salam kenal ya.. Aku Tarra.” ujar teman sebangkuku.
“Aku Marsya.” ucap perempuan dibelakangku sambil menyunggingkan senyumnya. Dia tak begitu cantik, tapi entah kenapa aku suka dengan tatanan poni datar ditambah aksen pita dirambutnya, memberi kesan imut dan aku memberinya 8 untuk penampilannya.
“Oh ya, 2 bulan lalu, kami kemah ke Jogja lo, disana temen deket kami Gisel meninggal.” suaranya merendah.
“Sya! Aku kan udah bilang sama kamu, jangan pernah bilang kalau dia udah meninggal!Toh sampe sekarang dia masih belum ditemuin kan!” bentak Tarra mendinginkan suasana.
Marsya cuma bisa menunduk.
“Hilang?” tanyaku memberanikan diri.
“Iya, Na. Gisel terpisah dari rombongan waktu kami outbond di tengah hutan. Dia bilang dia cuma mau ambil topinya sebentar di camp, tapi dia ngga pulang-pulang lagi. Kami udah coba cari tapi masih nggak ketemu. Yang bisa kami temukan cuma syal dia dipinggir sungai disana. Orang-orang yakin kalau dia udah meninggal. Tapi aku yakin kalau dia masih hidup. Pasti.” ceritanya sedikit lirih. Dari ceritanya, sepertinya Tarra adalah teman baik Gisel. Wajar saja kalau dia yang paling kaget dengan kedatanganku disini.
Aku masih mengamati seisi kelas. Mencoba menghafal nama mereka dengan melihat buku absensi kelas. “Jadi, namanya Wim” gumamku.
***
            “Anna!” aku memutar leherku 90 derajat.
            Wim menghampiriku. Sudah seminggu aku disana, dan ia salah satu laki-laki yang menarik perhatianku. Aku hanya heran, kenapa pada hari itu semua murid menatapnya saat dia bertanya tentang asalku.
            “Pulang bareng ya.” katanya memegang pundakku.
            Aku mengangguk lalu berjalan beriringan dengannya. Tempat tinggal kami tak jauh.
            “Wim, kenapa sih mereka liatin kita kayak gitu?” tanyaku keheranan sambil mengamati mereka-mereka yang menatap bingung kearah kami berdua.
            Wim hanya tersenyum.
            “Wim?” tanyaku sekali lagi.
            Wim tetap hanya tersenyum.
            Aku bingung. Sebenarnya, inilah yang membuatnya menarik bagiku. Aku penasaran siapa dia sampai-sampai sekadar menyapaku pun, seisi kelas sudah terkejut.
***
            “Ra, kamu tau nggak sih kenapa tiap aku lagi sama Wim semua orang pada ngeliatin kami?” tanyaku disela-sela meneguk es teh manis yang baru diantar oleh Mbak Ginar, penjual es di kantin sekolah.
            “Wim itu sahabat Gisel. Lebih dariku. Dia sama Gisel itu temen kecil, jadi kemana-mana pasti sama Wim, lebih kayak pacaran, Na. Tapi, sejak Gisel hilang, Wim berubah banget. Dia jadi suka menyendiri gitu dikelas, dia juga sering bolos, nilai-nilai dia juga turun drastis.”
            Aku tertawa kecil. “Jadi cuma gara-gara perempuan? Apa orang tuanya nggak marah sama dia?”
            Tarra menggeleng, “Dia tinggal sama adeknya doang, orang tuanya udah meninggal, kecelakaan. Satu-satunya orang yang bikin dia bisa bangkit dari keterpurukan itu ya cuma Gisel. Gisel juga pernah nyelametin dia pas tenggelam waktu kita liburan bareng.”
            Aku terdiam. Wajar saja Wim sangat terpuruk saat Gisel hilang. Wajar juga kalau semua orang heran melihat dia yang sudah berubah lagi. Karena kalau aku ada diposisi mereka juga aku bakal bingung. Wajah sama bukan berarti orang yang sama, kan? gumamku dalam hati.
            “Anna!” pekik seseorang dari lapangan.
            Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum kearahnya. Wim menghampiriku.
            “Pulang nanti aku ada ekskul basket. Kamu duluan aja.”
            Aku menggeleng, “Nggak ah, aku tunggu aja.” Sejujurnya, ada yang ingin kutanyakan pada Wim, tentunya tentang Gisel.
            “Ekskulnya satu jam setengah loh. Nanti kamu nungguinnya lama.”
            Aku sekadar tersenyum, “Nggak apa, Wim. Aku juga lagi kepingin baca-baca buku di perpus. Nanti aku tunggu disana aja ya.”
            Wim balas tersenyum. Kemudian ia menghilang dari pandanganku setelah Ryoto menarik lengannya mengajaknya kembali main volley.
***
            “Apa nggak bosen, Na?” tanyanya diperjalanan pulang.
            Aku menggeleng, “Oh iya, ada yang mau aku tanyain.”
            Langkah kami terhenti. Aku dan Wim memutuskan untuk duduk dulu disebuah taman komplek yang cukup sepi sore itu.
            “Ini tentang Gisel.” ucapku hati-hati.
            Aku melihat raut wajah Wim yang mulai berubah. Sebenarnya, aku agak takut memulai pembicaraan tentang Gisel dengannya, tapi apa boleh buat? Rasa penasaran sudah berkecamuk.
            “Apa?” tanyanya pelan.
            “Aku tau kalau aku dan Gisel punya wajah yang sama. Tapi kami bukan orang yang sama, Wim. Aku bukan Gisel.”
            Wim menggelengkan kepalanya.
            “Wim, kamu harus coba terima kenyataan kalau aku bukan Gisel. Aku tau itu pasti berat buat kamu. Tapi aku ngerasa kalau kamu deketin aku cuma karena aku mirip Gisel. Aku kadang ngerasa nggak jadi diri aku sendiri. Apalagi kamu sering banget manggil aku Gisel. Aku ngerasa aku bukan Anna.” keluhku masih secara hati-hati.
            Wim hanya terdiam. Dia sama sekali tak menanggapi ucapanku.
            Pembicaraan kami sore itu hanya sampai disana. Baik aku maupun Wim, sama sekali tak ada yang mencoba menghangatkan suasana yang dingin ini.
***
15 Februari 2013

            Satu bulan sejak aku pindah ke Bandung, aku semakin nyaman tinggal disana. Wim dan aku juga semakin dekat. Kami tak pernah lagi menyinggung tentang Gisel. Walaupun sebenarnya, aku tahu jelas, sesekali Wim seringkali tak sengaja menyebutku Gisel. Aku tak begitu mempermasalahkannya. Melihat Wim yang tersenyum kepadaku aku tak kuasa untuk memarahinya atau mencoba mengembalikan suasana seperti sore itu. Aku sepertinya jatuh cinta pada sosok Wim. Entah kenapa, aku merasa tak perlu menunggu lama untuk menerka isi hatiku karena setiap hari, dia selalu melintas dibenakku.
            Sampai hari ini tiba, dimana Wim akhirnya mengungkapkan semua rahasia tentangku yang bahkan tak kuketahui.
            “Anna..” ujarnya membangunkan lamunanku.
            Kami duduk disebuah café yang tak begitu jauh dari rumahnya. Café itu tak seramai biasanya, jadi kami merasa lebih nyaman.
            “Ya?” ucapku setelah meneguk secangkir kopi putih.
            “Selama ini, aku udah coba untuk menganggap kamu bukan Gisel, aku udah coba untuk lupain bayang-bayang Gisel dan menerima kenyataan kalau kamu adalah Anna. Tapi aku nggak bisa…” ujarnya agak lirih.
            Ia melihat kejalanan yang sedang sepi malam itu, kemudian meneruskan ucapannya, “Aku begitu risih dengan semua yang aku rasa, sampai aku harus mencari tahu semuanya.”
            Aku mengerenyitkan dahi. “Cari tahu apa, Wim?”
            “Bu Wanda, dia nggak pernah cerita apa-apa sama kamu? Tentang kamu?” tanyanya padaku.
            Aku membelalak. Wim pasti sudah tahu apa yang menimpaku 3 bulan yang lalu. “Tentang kecelaanku?”
            Wim mengangguk.
            “Kenapa? Kamu kaget ya? Aku bermaksud cerita kekamu disaat kamu udah bener-bener nganggep aku Anna, Wim.” ujarku dengan senyuman.
            Wim menggeleng. “Kamu Gisel, Na.”
            Aku lagi-lagi terbelalak. Cangkir kopi yang kupegang pun bahkan tanpa sengaja terjatuh begitu saja. Café yang tadinya sepi sekarang sudah gaduh karena kecerobohanku. Buru-buru aku meminta maaf dan pergi bersama Wim keluar café. Berjalan pelan menuju taman komplek.
            “Maksud kamu apa sih, Wim?”
            “Jujur deh, Na. Sejak awal aku sudah yakin kalau kamu itu Gisel. Hati tuh ngga pernah bisa bohong. Dia selalu nunjukin mana yang bener mana yang salah. Selama ini, aku nggak pernah sekalipun berpikir kalau Gisel bakal bener-bener pergi. Aku yakin dia pasti kembali. Dan bener..” katanya terputus oleh tawaku.
            “Apaan sih Wim? Kamu nggak usah bercanda deh. Nggak lucu. Jelas-jelas aku Anna kok. Kamu main gih sesekali ke panti aku. Liat foto-foto kecilku.”
            Wim menarik nafas pelan. “Itu bukan kamu. Bu Wanda bohong, Na. Kamu tahu kan kalau kamu lupa ingatan sejak kecelakaan yang kamu bilang itu?”
            Aku mengangguk. Benar, aku memang lupa ingatan. Tapi, Bu Wanda sudah menceritakan semuanya padaku. Mulai dari masa kecilku, alasan kenapa orang tuaku menempatkan aku dipanti, bahkan kecelakaan itu.
            “Bu Wanda udah cerita semuanya, Wim.”
            Wim menggeleng, “Dia cuma nggak mau kamu berusaha nginget apa yang nggak bakal kamu inget, Na!” ujar Wim agak kasar.
            “Apasih Wim? Aku lebih percaya Bu Wanda ketimbang kamu. Kamu aneh!” balasku membentak.
            “Na, percaya sama aku. Bu Wanda cuma nggak mau kamu lebih sakit. Dokter bilang, kalau kamu dipaksa nginget sesuatu dimasa lalu, kamu malah bakal tambah sakit. Jadi Bu Wanda mutusin untuk nggak maksa kamu nginget semuanya. Dan foto kecil kamu itu bukan kamu! Itu anaknya Bu Wanda yang udah meninggal, Na.”
            Aku hanya terdiam. Menggelengkan kepala dan tersenyum sinis kepada Wim. Omong kosong macam apa itu. Aku berdiri dan meninggalkan Wim secepat mungkin supaya ia tak meneruskan omong kosongnya itu.
            Sementara dari kejauhan, aku menoleh dan melihat Wim yang masih terduduk di bangku taman menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedikit lemas, Ah entahlah! Aku tak memeprdulikannya.
            Aku bingung dengan semua yang Wim katakan. Aku tak percaya dan memilih untuk tak menanyakan apa-apa pada Bu Wanda. Sejak hari itu, Wim kembali seperti yang pernah Tarra ceritakan, dia hanya diam dan menyendiri. Aku pun tak ingin mencoba mengembalikan senyumannya. Aku terlanjur kesal dengan semua omong kosong yang ia katakan.
***
            “Anna…” panggil Bu Wanda yang sudah berdiri didepan pintu kamarku.
            Aku menoleh dan tersenyum lalu menghentikan alunan piano Yiruma dari handphone-ku. Bu Wanda duduk disebelahku, Ia membelai rambutku pelan tanpa berkata apa-apa.
            “Ada apa, Bu?”
            “Ibu kok nggak lihat Wim nganter kamu pulang lagi ya?”
            Aku tersenyum getir. “Lagi nggak akur, Bu.” jawabku singkat tanpa memberitahu alasan apa-apa, karna aku sama sekali tak bermaksud menanyakan omong kosong yang Wim katakan hari itu.
            Bu Wanda masih membelai rambutku pelan, ditatapnya mataku kemudian sebelah tangannya menyentuh pipi kananku.
            “Maaf, Gisel.” ucapnya mengagetkanku. Membuatku hampir jantungan. “Benar kata Wim, jadi kamu jangan marah sama dia.”
            “Ibu apa-apaan sih? Dia pasti minta tolong Ibu, ya. Udah ah, aku mau tidur, Bu.” ucapku ketus karena Bu Wanda juga mengatakan omong kosong ya sama.
            “Dia nggak bohong.” kata Bu Wanda sedikit lirih karena airmata nya mulai berjatuhan.
            Aku tak bermaksud menyakiti Bu Wanda dengan kata-kataku, aku menghapus air mata nya dan mencoba berpikir jernih atas apa yang baru saja Bu Wanda katakan.
            “Bu, aku bahagia kok jadi Anna. Ibu nggak perlu merasa bersalah.”
            Bu Wanda menggeleng, ia mengambil bingkai foto kecil foto masa kecilku bersamanya. “Namanya Diana. Anak Ibu satu-satunya. Ia seusia kamu, setahun yang lalu, ia meninggal, setelah operasi ginjal. Ibu masih belum bisa nerima kenyataan kalau dia udah nggak ada. Dan, 3 bulan yang lalu, Ibu menemukan kamu, kamu terdampar di pinggir sungai dekat panti. Awalnya, Ibu bermaksud pura-pura tak tahu karna ibu takut. Tapi, ibu kepikiran Diana, Ibu liat kartu identitas yang ada disakumu.” Bu Wanda menyodorkan sesuatu dari saku roknya. Identitas Gisel.
            “Ibu membawa kamu ke rumah sakit dan dokter bilang kalau kamu lupa ingatan. Tadinya, ibu bermaksud mengembalikanmu ke alamat yang ada di kartu identitas itu. Tapi setelah ibu kesana, tetangga disana bilang kalau orang tuamu baru saja meninggal…” Bu Wanda menangis semakin menjadi-jadi, kemudian ia menyambung ceritanya, “bunuh diri.”
            Aku tersentak kaget. Tak kusadari, air mataku mulai mengalir bulir demi bulir. Kutatap wajah Bu Wanda seakan tak percaya.
            “Ibu nggak pernah tega mengatakan semuanya sama kamu. Ibu juga nggak mau membuat kamu lebih sakit dengan memaksa kamu mengingat semuanya. Sampai akhirnya, Tuhan membalas Ibu dengan musibah untuk panti ini. Ibu ngerasa bersalah dan akhirnya memutuskan untuk pelan-pelan mengembalikan ingatan kamu dengan memasukkan kamu ke sekolah kamu yang semestinya. Ibu kira, kamu akan ingat pelan pelan.”
            Aku hanya terdiam, masih dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Bu Wanda pelan mengusap air mataku. Dia tahu kalau aku takkan sanggup berkata apapun saat ini. Dia pergi meninggalkanku dan aku mendengar samar-samar ditengah tangisku yang pecah kalau dia bilang “Maaf.”
            Aku tak bisa tidur malam itu. Aku hanya mengisi malam hari itu dengan tangisan. Seolah tak percaya dengan apa yang aku alami.
***
18 Februari 2013

            “Wim, aku mau bicara.” aku mengirimkan pesan singkat untuk Wim.
            Aku dan Wim sudah duduk bersebelahan disebuah bangku ditaman. Lagi-lagi, ditempat ini ada sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupku.
            “Aku… tolong bantu aku menjadi Gisel.” ujarku sambil memejamkan mata, takut melihat dunia yang semakin lama semakin mengungkap beribu rahasia.
            Wim tersenyum, ia merangkul pundakku tanpa berkata sepatah katapun.
***
15 Januari 2015

Hari ini, tepat 2 tahun aku tinggal di Bandung. Semakin lama, aku merasa semakin nyaman. Berkat Wim, semua yang terasa berat menjadi mudah. Aku hidup sebagai Gisel, dengan ingatan yang pelan-pelan mulai jelas dibenakku. Siapa orang tuaku, siapa teman-temanku, bagaimana kehidupanku. Aku sudah ingat semuanya. Dari kisah hidup yang semakin lama semakin jelas diingatanku, aku belajar bahwa benar apa yang pernah Wim katakan, “Hati tak pernah salah, hati akan menemukan yang benar meskipun semua mengatakan kalau itu salah. Karna hati melihat lebih dalam dari mata.” 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Surat kecil dari Wim untuk Gisel yang tak pernah tersampaikan]
17 Oktober 2012 (hari pertama aku kehilanganmu)
Lucu ya? Aku laki-laki tapi lemah. Aku laki-laki yang cengeng. Menangis setiap malam setiap kali mengingatmu. Mereka bilang kamu sudah pergi, tapi hatiku yakin kamu masih ada. Sekalipun kamu pergi, kamu tetap ada buatku. Aku tak pernah menganggap kamu benar-benar pergi bahkan ketika aku harus menemui kenyataannya.

15 Januari 2013
Hari ini aku bertemu kamu! Hatiku benar!! Aku menemukanmu! Walaupun aku tak punya apa-apa yang bisa meyakinkan mereka kalau kamu adalah Gisel, tapi aku yakin karena lagi-lagi hatiku bilang kalau kamu Gisel! Aku percaya kalau suatu hari nanti hati akan menemukan kebenarannya.

15 Februari 2013
Hari ini aku coba menyampaikan rahasia tentangmu. Tapi, aku salah. Caraku salah, lagi-lagi aku salah. Apa yang harus kulakukan?

18 Februari 2013
The heart find the right! The heart never be wrong! I’ve got her back , I love you, Gisel!

15 Januari 2015
Tuhan menghadiahkan yang terbaik untuk umat-Nya. Thanks for the best gift I’ve ever had. I’ve found the right, God.

Rabu, 21 Agustus 2013

Truth or Dare

Niatnya cuma iseng dan itung-itung ngisi waktu liburan kemaren, Eh, taunya jadi deh buku dadakan yang dibuat sedemikian rupa semampu pikiran yang udah full sama kegiatan-kegiatan persiapan mos yang absurd.

Taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!










Rabu, 05 Juni 2013

Maybe..♥ #last

“Sel, tugas Pak Bondan udah buat?” tanya Ocha menghampiri Selline yang tengah duduk santai di taman menikmati secangkir kopi instan.
“Udah. Kenapa?”
“Boleh pinjem? Aku udah 2 kali missed pelajaran Pak Bondan. Jadi, you know lah.”
“Iya, pinjem aja.”
“E.. sel?”
“Ya?”
“Kemarin, Joseph bbm aku.” Ocha kembali meneruskan ucapannya, “Dia nanya-nanyain kamu tuh.”
“Apa?”
“Ya, nanya-nanya biasa. Kamu masih baik-baik aja kan sama dia?”
Selline menarik nafas panjang, “Ocha, sudah dari setahun yang lalu kan aku bilang, aku itu gak pacaran sama Joseph.” nada Selline mulai meninggi.
“Iya-iya. Aku sih emang agak gak percaya, tapi ya kalo dipikir-pikir, gak mungkin juga. Ah, udahlah.”
“Hm..” jawab Selline acuh. Entah apa yang terbesit dipikirannya. Semuanya terasa runyam.
“Sel?” Ocha kembali menyebut nama itu.
“Kenapa?” Selline menjawab dengan nada yang tinggi.
Kali ini, Ocha membatalkan apa yang ingin ia ucapkan. Biarlah Selline mengetahuinya sendiri nanti.
Hari-hari dijalani Selline seperti biasa, tanpa ada yang special atau menarik. Sudah terlalu sulit baginya mendapatkan yang special semenjak malam itu. Meskipun ada Leo yang setiap hari menjadi ojek-nya bahkan ada Arfan yang setiap minggu selalu membawakannya setangkai mawar putih, tetap saja semua itu tidak sehangat dulu. Sampai hari ini tiba. Hari dimana Selline harus merasakan jantungnya berdetak 1500 kali permenit dan matanya sudah 100 detik tidak berkedip hanya karena orang ini.
“Wow bro! Kabar itu bener ternyata.” ujar seseorang menepuk pundak laki-laki itu.
“Kabar?”
“Ya, Joseph pindah kesini. Gitu kata temen-temen yang lain, ternyata bener. Kenapa pindah man?” Roy menyunggingkan senyumnya.
Selline hanya bisa menatap itu dari kejauhan. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia harus dipertemukan dengan masa lalu?
“Sebenernya, waktu itu aku mau kasih tau kamu sel, tapi kamunya kayaknya lagi marah gara-gara aku ngobrolin Joseph.” Ocha menyadari bagaimana seorang perempuan yang duduk disebelahnya itu begitu terperangah melihat kehadiran “teman lama”.
Tak banyak yang ia lakukan. Berjalan bersama Roy entah kemana. Sementara Selline hanya melihat “ia” dari kejauhan. Sesak rasanya. Terlalu berat untuk menghadapi masa lalu. Kenapa masa lalu ini datang kembali?
“Dia.. masuk fakultas apa?”
“Hukum sel, sama kayak kita. Di Jakarta, dia sering bolos, jadi udah berapa kali dapet SP. Sampe akhirnya orang tuanya maksa dia ikut ortunya disini. Katanya, biar ga bolos.” Ocha menjelaskan.
“Dia tau aku disini?”
“Ya iyalah. Makanya dia mau kesini.” Elis menjawab dengan lugunya.
“Oh.” Jawabnya pelan bahkan hampir tak terdengar oleh kedua temannya.
Selline tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya diam, terpaku masih menatap sosok seorang dari belakang itu tanpa berkata apa-apa. Masih aneh, rasanya. Debar jantung, mata yang terbelalak, dan tubuh yang seakan kaku itu tidak dapat dipungkiri masih menyimpan secercah harapan. Kali ini benar, ini bukan kelabu. Ini nyata dan perlahan, Selline mulai menyunggingkan senyumnya kearah kedua temannya. Ocha dan Elis hanya saling melirik dan seakan mengerti maksud senyuman itu.
***
Ini adalah hari baru, Selline mencoba membuka buku usang yang tersimpan rapi di laci meja kamarnya. Ia tersenyum melihat sebuah tulisan tinta hitam yang telah memiliki jawaban, “Ya”, ujarnya dalam hati, sambil menatap lembar paling akhir dari buku harian itu, “God has given to me my destiny, J”. Segera, ia menyelipkan sebuah kertas kecil dihalaman paling akhir buku itu. “This day is the 20nd ours. You’re truly mine, and I’m truly yours, J

Nb:
Selamat datang kembali masa lalu, inikah yang mereka sebut tentang cinta? –kalimat terakhir Selline dalam buku hariannya yang ia tulis dua puluh tiga tahun yang lalu.


Senin, 27 Mei 2013

Ass: Wedding Invitation


Baru-baru ini dapet tugas akhir semester dari guru bahasa inggris untuk buat undangan, boleh pilih antara birthday invitation / wedding invitation. Saya sama kedua temen absurd yang satu kelompok sama saya akhirnya mutusin buat pilih wedding invitation. 
Ceritanya nih Ms.Yeni kasih tugas itu udah dari 17 Mei yang lalu, tapi, karna dikumpulnya tanggal 24, mulai deh kerja moloorr. Yahh, wajar aja sih, soalnya 18-19 itu ada kegiatan kemah disekolah, jadi mesti banyak persiapan, tanggal 20-21 lagi padet-padetnya ulangan, jadi ya cuma bisa buat pas lagi free, ya tanggal 22&23. Bilangnya sih iya mau kerja kelompok, pas sampe ke markas kelas yang jatuh tepat di rumah saya, eh malah makan kentang+buat pr akuntansi yang tiba-tiba dikasih. Okesip, ini molor (aja). Besoknya, saya sama kedua temen saya lanjut ngerjain tugas bahasa inggris (E? Lanjut?). Kali ini waktunya cuma dari jam setengah 3 sampe jam setengah 5. Jadi mesti bener-bener gesiiitttt gesiiittt iritt. Wajar sihya, abisnya temen saya itu ada yang rumahnya jauh. Kalo dari rumah saya aja bisa 2 jam-an kerumahnya.Yaah, resiko pelajar lahya.
Mulai ngebuat segala sesuatu yang berkaitan dengan wedding invitation yang udah didesain kemaren, bener-bener kewalahan pas tau udah jam setengah 5 tapi masih belom nempel apapun. Langsung kerja super gesit dan alhasil, jadi deh Wedding Invitation "Billy & Patricia" (Entah siapa) ala-ala Paris gitu. Hehe. 
nb: dibuat dengan penuh perjuangan 













Gimana undangannya? :D hhi, ada yang minat buat pesen? Kalo ada contact personnya ke @LidyaMarselina, @PupuJuniarR, sama @Vanes_279 yaaah (eleh-..-) hahaha



Minggu, 14 April 2013

Maybe..♥ #7


         Ini hari pertama. Setelah seminggu menapakkan kaki di Bandung, ini hari pertama untuk Selline datang menemui guru yang disebut dosen, menemui murid lain yang disebut mahasiswa, menemui sekolah yang disebut Universitas.
         “Hei?” ujar seseorang menepuk pundak Selline.
         “Rossa?” Selline berucap sedikit ragu.
         “Haha,Kaku banget sih manggilnya. Panggil aja Ocha.” Ucapnya santai.
         “Baiklah-baiklah. Kamu? Disini juga?”
         “Ya, senang bertemu kembali denganmu.” Ujarnya dengan senyuman mengembang.
         “Kupikir hanya aku yang kesini.”
         “Hey, itu salah besar. Kau tahu Roy? Kapten basket ? Dia juga disini, dan… Eliss? Si pianis itu?”
         “Benarkah? Wohh! I missed the info.” Ucap Selline diiringi tawa yang menyusul.
         Pertemuan Selline dengan Ocha berjalan begitu saja. Seperti memang sudah akrab sebelumnya, meskipun sebenarnya, Selline hanya sekedar mengetahui Ocha dari teman-temannya. Begitupun dengan Roy dan Elis, ia hanya tau sebatas nama dan wajah. Bahkan mungkin, Roy dan Elis tak mengenalnya. “haha” tawanya dalam hati.
         “Sel, jadi ceritanya LDR nih?” ujar Ocha tiba-tiba sambil meletakkan tas-nya di hari pertama ospek senin itu.
         “Maksud kamu cha?”
         “Heleh, kamu lupa/ pura-pura gak tau?”
         Selline terdiam, mencoba menerka maksudnya, tapi ia kembali mendesah, “Siapa?”
         “Joseph lah lin, masa lupa sih?” jawab Ocha kemudian diiringi “heh”.
         Astaga! Selline bahkan tak tahu apa-apa tentang Ocha, tapi kenapa sampai sebegitu dalamnya Ocha tau tentang dia?
         “Haha” tawanya singkat, “Aku gak LDR tau. Pacaran aja enggak.” Selline menepis benar-benar keras.
         “Pasti aneh ya darimana aku tahu kabar itu?” Ocha mencoba menerka maksud Selline yang sebenarnya sangat jelas terpancar dari wajahnya.
         “Hmmm…” belum sempat Selline menjawab, Ocha sudah melanjutkan, “Kamu sama Joseph itu udah terkenal sel, siapa sih yang gak tau? Kamu tanya Roy yang super duper cool aja pasti tau. Kalian pacaran kan?”
         Dup! Selline seolah diterpa angin, dibawa menuju kutub utara, kembali mengitari padang pasir dan akhirnya menyusuri Samudera Hindia! Semua tahu? Tidakkah itu berlebihan?

Minggu, 24 Februari 2013

Rumah hantu

Sebenernya posting ini harusnya dibuat waktu rabu kemaren, tapi apa boleh buat? sibuk kerja kelompok sama kerjain tugas yang lagi numpuk-numpuknya. Yah, you know lah, resiko pelajar. Balik aja ke judul ya. Jadi ceritanya rabu kemaren saya ke rumah hantu bareng kesembilan temen unyu yang lucu tanpa ampun. Sampe didepan tempatnya aja rasanya udah mau balik, kaki udah gemeter. Tapi mau gimana lagi? udah ngebet pengen kesana dari desember lalu. Jadi sampe disana saya sama temen saya langsung bayar kupon. Sempet ada debat sih, soalnya katanya yang boleh masuk cuma 5 orang. Padahal ada 10 pasukan dan tau sendiri gimana hebohnya kalo cuma 5 orang. Alhasil, saya sama lima temen saya jadi kloter satu, yang empatnya lagi kloter dua (kaya naik haji). Baru masuk pake mata merem aja udah jeritannya keras (banget), apalagi pas nyampe tangga? Ada kejadian super absurd yang ngegelitik perut saya waktu didalem ruangan ._. kejadiannya apa sih gak boleh tau, privasi si dia katanya. Anyway, sehabis keluar dari wahananya saya sama yang lainnya udah kaya abis mandi. Keringet udah kayak air ngalir, deres banget. Kaki gemeter. Makasih aja deh buat yang buat wahana gituan, makasih udah buat tugas kelompok yang tadinya mau saya kerjain sama temen-temen saya hari itu terbengkalai_.v


Kamis, 14 Februari 2013

Valentine♥

Hari ini TL rame sama ucapan happy valentine's day, ada juga yang ngetweet galau karna gak dapet hadiah spesial dari someone special hari ini, ada juga yang sibuk ngetweet kalo valentine itu dilarang agama lah, gak ada lah, atau hal-hal sejenisnya yang saya abaikan.
Gak cuma TL yang rame, tapi juga kelas. Ceritanya, hari ini ada acara tuker kado kelas (diundi). Kelas udah banjir-banjirnya coklat, saya malah dapet bunga. However, it's noproblem. Saya juga sempet dapet kado dari temen saya vanessya&pupu makasih banyak ya kadonya, makasih juga buat ucapan yang udah buat saya senyum mengembang lengkung. Ohya, satu lagi, makasih buat nanda sama erlinda yang udah kasih coklat kecil buat saya yang gak sempet saya foto. Makasih banyak<3

dari vanes sama arief

ini ucapan dari vanes yang asli buat ngakak 

ada yang dari vanes ada yang dari orang lain. mirip ya

Lucu, wkwk


Makasih pupu:)

dari pupu:-)




Rabu, 13 Februari 2013

Orang india?

Jadi ceritanya gini, kemaren itu sekolah saya pulang cepet. Soalnya, yang kelas XII mau try out /horeee/ tapi, pulang cepetnya ketunda. Anak kelas X disuruh kumpul dulu kelapangan, katanya sih ada pengumuman. Jam setengah sepuluh (kira-kira) semua anak kelas X udah kumpul dilapangan. Baris sok rapi (padahal gak rapi) kayak mau upacara. Eh taunya, ada guru bahasa inggris yang dateng sama bule. Nahloh, bule mana coba?

Ternyata, si bule itu dari India, mau praktekin cara buat berbagai bentuk dari kertas. Barisan yang awalnya mirip mau upacara langsung mencar, semua anak duduk di lapangan dan dengerin si bule yang mulai praktek pake bahasa inggris. Anak-anak mah pada sok yes aja, padahal ngerti juga kagak /haha/. Alhasil, beberapa murid kelas saya banyak yang minta foto sama tuh bule. Lumayan lah kenang-kenangan buat #TeensXAkOneXa.






Maybe..♥ #6

 Apakah hanya untuk kamu aku tercipta? Tidak, bukan? Tapi kenapa sampai detik ini hanya kamu yang sejatinya membuat otak ini mengingat satu nama orang dan membuat jantung ini berdebar sepuluh kali lipat ketika bersama seseorang? Akankah aku menyambut kebahagiaan yang kusebut dengan ‘mustahil’?
 “Sell, bengong aja. Ayo, acara udah mau mulai.” Ujarnya memanggil namaku.
         “Iya.” Jawabku singkat sambil berjalan dengan segala upaya untuk menyunggingkan senyum dihari yang mereka katakan ‘perpisahan.’
           “Ohya, tadi aku ketemu mama kamu, cantik ya.”
         Aku hanya menyunggingkan senyum sedikit (lagi). Tak ada yang harus kujawab dan tak ada yang bisa kukatakan. Hanya sekedar basa-basi, bagiku.
          “Kenapa diem aja? Kapan lagi coba kita sama-sama kayak gini?” Rebeca menepuk pundakku.
          “Aku bingung mau bilang apa.” Jawabku (masih) dengan ekspresi datar.
          Rebeca melihat sekeliling, kembali ia menepuk pundakku, “Sell, liat Joseph!” ujarnya dengan penuh antusias.
          “Iya, aku liat. Terus kenapa?”
      “Yaampun Sel. Udah seganteng itu loh, liat jasnya , sepatunya, awww! Beda sel beda.” Rebeca bertepuk tangan kecil.
          Aku hanya menarik nafas panjang, “Iya, Javen juga.”
          “Jelas dong. Aku yang menyarankan dia pake baju yang mana, sepatu, jas, ka…..”
        Belum sempat Rebeca menyelesaikan ucapannya, aku langsung memotong, “Iya-iya. Udah berapa kali kamu ngomong gitu.” Ya, memotong berarti mempersingkat. Sebelum aku makin terdiam dan menyimpan rasa iri dalam hati.
      Selama hampir 2 tahun, aku hanya sekedar dicintai oleh seorang laki-laki yang kelabu. Kadang menghilang, kadang datang dengan membawa sejuta cerita fiktif yang sepertinya ia persiapkan berbulan-bulan. Berbeda dengan Rebeca, jelas. Hampir 2 tahun, ia memiliki hubungan yang jelas dengan Javen. Bahkan mereka masuk ke universitas yang sama. Berbeda denganku dan Jo………. Tidak. Maksudku, berbeda dengan aku dan Rebeca yang hanya bisa menjalin persahabatan via telepon atau socmed lainnya. Ya, aku akan pindah ke Bandung, sementara Rebeca masih di kota kelahiranku ini.