Tampilkan postingan dengan label Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2019

mem•oir [2]

Untuk kamu, teman terbaikku, dulu.

Dua hari yang lalu, aku kembali berkutat dengan cerita dan sajak barang sebaris dua baris yang sempat kutuliskan lima tahun lalu.

Aku mengenang, bagaimana aku di lima tahun belakang?
Tertawa, menyadari betapa bodohnya diri ini dengan segala hal konyol yang kulakukan belakangan.
Tersenyum, mengingat indahnya masa-masa itu, masa dimana ada yang mampu menghiasi kelamnya hariku saat itu.

Kemudian senyumku mengerucut.
Berubah menjadi diam dalam sendu.
Bukan. Aku bukan sedih dengan apa yang telah terjadi dimasa lalu.
Aku hanya merindu
Rindu sekali, sampai akhirnya diamku menjadi tangisan.

Pernah merasa menangis namun bahagia?
Itu yang aku rasa ketika kutemukan memori disana.
Kamu, teman terbaikku. Seorang yang menemukanku dalam kesendirian dan membawaku menuju dunia yang lebih membahagiakan. Kamu mengajarkan banyak hal, teman.
Tanpa kamu sadari, bahkan dititik terakhir pertemuan kita, kamu yang buatku menjadi aku yang sekarang. Kamu buat aku jadi lebih tegar, dan belajar menerima kenyataan, walau pahit. Kamu meyakinkan kalau akan ada jalan dalam setiap permasalahan.

Kita berpisah dalam diam, dalam kesedihan yang tak larut sehari, sebulan, bahkan setahun. Mungkin bukan kamu, tapi aku. Aku yang merasa.

Aku larut dalam kelam sampai akhirnya aku sadar bahwa kamu yang membawaku menuju kebahagiaan.
Terima kasih, teman! Untuk setiap rasa yang pernah kamu ciptakan.
Terima kasih untuk ada disampingku, dan selalu menjadi pendengar terbaik untukku kala itu.
Terima kasih untuk kejutan luka yang sempat kau goreskan sampai aku belajar melepaskan.

Aku masih asyik memindai satu per satu memori itu.
Menelisik sisa-sisa kenangan yang pernah kuciptakan, denganmu.
Mungkin bukan untuk dikembalikan, karena waktu tidak untuk diputarbalikkan,
Namun dijadikan kenangan.

- dari aku, yang sampai sekarang masih memperhatikan tanpa perasaan

Selasa, 31 Juli 2018

Berhenti, yuk!

Selasa malam.
Penuh keraguan.

Tadinya aku baik saja.
Aku masih santai.
Masih terima waktu kamu bilang tak mau datang.
Aku masih santai.
Dengan kamu yang bilang selamat tinggal, lalu pergi dalam sedetik kemudian.

Biasa.
Kamu memang super, sibuk.
Aku tahu
Banyak hal yang kamu lakukan,
Sedang aku hanya bisa merepotkan.

Kita,
Sama sama berjalan,
Namun takkan bertemu.
Kamu selalu berjalan kedepan.
Sedang aku mengejarmu dibelakang.
Dan kamu tahu, bahwa aku tak pandai berlari.
Sedang kamu? Selalu pergi.

Sayang,
Mungkin kamu pikir, aku sedikit lelah.
Mungkin kamu kira, aku bisa mengalah.
Mungkin kamu sangka, aku akan pasrah.
Tidak lagi, tidak untuk sekarang.

Aku, sudah enggan berlari lagi.
Tak hanya sedikit lelah yang kau beri, tapi tak terhitung lagi.
Tak ingin kalah atau pasrah lagi, tapi ingin berhenti.
Sejenak.
Atau lebih dari itu.
Melihat, mana yang lebih pantas.

Diam saja atau lanjut berlari.

Lihat sayang,
Aku sudah dengan santainya bilang aku yang berhenti.
Lihat saja.
Seberapa lama ucapku akan terbukti.
kalau aku, berharap ini bukan hanya pikir kosong.
Atau bukan juga sekedar bohong

Aku harap,
kamu mengerti,
Alasan kenapa aku berhenti,
Dan jangan buat aku kembali,
sebab aku akan pergi.
Sama , seperti kamu yang aku ketahui.

-dari Aku, si tolol yang kembali bilang maaf meski tak tahu dimana salahnya-

Senin, 16 Juli 2018

Pernahkah sadar?

Malam ini dingin. Dingin sekali sampai-sampai aku mengulur selimut dalam-dalam. Sampai-sampai suhu tubuhku tak lagi normal. Ya, aku sakit. Tapi disini, saat ini,
Bukan tubuhku yang terasa sakit
Saat ini,
Disini,
Ditempat ini,
Jauh lebih sakit. Tak perlu kusebut karna kau pasti tahu.

Aku mendengar dentuman keras lagu ditelingaku, sengaja disetel supaya tak terasa sunyi lagi hariku,
Tapi tetap saja, yang terasa hanya lengang dan kosong, lalu hampa yang datang menyapaku,

dan tanpa rasa malu, dia menyapa.
bertanya ada apa, lalu mengutuk kebodohanku.

Hai, sayang.
Akhir-akhir ini aku sedang kelam.
Kalau kuibaratkan perasaanku dalam empat musim, inilah aku, yang tengah berjatuhan satu persatu, tetap indah sih,
Aku tetap tersenyum walau terjatuh,
Tetap membuat mereka memandang lalu sedetik kemudian berkata kalau tak ada apa-apa.

Iya. Aku adalah musim gugur.
Sekarang
Saat ini
Dan entah untuk berapa lama

Aku hancur, sayang.

Aku berkali-kali mengelus dada.
Bilang pada hati kecilku untuk tetap sabar, kan ada jalan.
Bilang pada pikir jahatku untuk jangan macam-macam, dasar nakal.
Bilang pada kamu jangan semaumu, kamu jahat, tapi tetap sayang.

Aku bosan, dengan liku cerita kita.
Akan kujelaskan lebih detil dalam satu paragraf :

"Kamu datang, kusambut dengan senyuman. Kamu bahagia, sangat. Pun dengan aku. Kita sama-sama bahagia, sesaat. Sampai lupa kalau setiap kebahagiaan sangat erat dengan kesedihan. dan dititik inilah kesedihan ini hinggap. Dititik ini, hati kecil masing masing kita ingin mengakhiri dan saling iri. Iya, aku iri dengan senyummu yang tak semanis itu untukku, kamu pun juga. Aku juga iri dengan lelucuan mu yang terasa sangat berbeda untuk orang lain. Ya, diantara kita, kita lupa kalau ada orang lain, yang bisa masuk dan keluar seenaknya, sementara kita, belum bersiap untuk menyambut atau bahkan tak punya cara untuk melepas. Antara aku dan kamu, adalah kamu yang paling bodoh melepas. Dan aku, adalah yang paling pintar menemukan. Selalu seperti itu, kebahagian kita terkikis dan berganti jadi kepahitan. lalu kamu kan bilang maaf dan mencoba untuk berubah, dan tak lebih dari dua puluh empat jam, kita sudah bersapa biasa, seperti tak pernah ada dia. lalu, kan begitu lagi pula dalam kurang dari tujuh hari. Berulang  dan terus berulang."

baca ceritaku, pernahkah kamu sadar?
Kita mengulang titik itu berkali-kali sayang.
Aku lelah dan ingin mengalah.
Tapi aku belum ingin menyerah.
Selalu kuusahakan, supaya masih ada harapan, buat kita agar kembali berdekatan.

aku lelah, dengan segala kebohongan yang kamu lantunkan
Dengan segala maaf yang hanya sekali jalan
Lelah, sayang.

Aku disini, bodohnya memikirkan seribu satu kejutan untukmu, bahkan sampai sakit kepalaku karna harus berpura-pura menjadi kamu, dan mengandai-andaikan apa tanggapanmu kalau kamu melihat ini, cuma ingin kamu bilang terimakasih, sayang.

Tapi dalam sudut lain, kamu tengah sibuk, sama - memikirkan seribu satu cara juga. Tapi bukan untuk kejutanku, apalagi untuk berandai-andai menjadi aku,
kamu sibuk, dengan duniamu yang kau anggap hiburan.
yang kau bilang hanya teman.

Pernahkah sadar?




Dari aku, yang bodohnya masih memikirkan kejutan ini itu, sembari kamu berpikir ini itu untuk menghentikanku.

Minggu, 15 Juli 2018

Bertahan?

He just made promise, and then he denied it

Minggu pagi, dalam suhu 29 derajat diluar, sementara didalam sudah 18 derajat celcius

Aku mengelus dada lagi, menahan emosi.
Kamu bilang ini itu, kamu buat aku bahagia lalu menyanjung mu dengan ribuan pujian.
Kamu baik, kamu paling baik.
Kamu pengertian dan bahkan perhatian.
Kamu romantis, dan pintar membuat kejutan.
Kamu ibarat tokoh dalam drama korea yang kukagumi, sesaat.

Sesaat kamu menjadi manusia paling berharga yang pernah kutemui. Tapi apalah artinya sesaat, sayang?

Sekejap dan tak menetap.

Kamu terlalu pandai menjadi pendongeng.
Kamu terlalu lihai bermain kata-kata
Kamu terlalu mahir menciptakan kalimat-kalimat indah
Yang buat aku terlena sampai lupa,
Kalau kamu, lagi lagi situkang berjanji.

sayang,
Ingatlah kalau setiap manusia punya batas kesabarannya masing-masing.
Ingatlah kalau kamu bersalah lekaslah meminta maaf.
Ingatlah kalau setiap kata-kata bukan hanya sekedar bualan.
Ingatlah kalau aku, si manusia bodoh ini, inginkan kamu untuk menepati, atau lebih baik tak berjanji.

you made it and you denied it.
Kamu lah yang paling pandai mengotak-atik hatiku, membuat ku lagi-lagi berpikir, haruskah aku tetap sabar dan bertahan dengan si tukang janji?

Sabtu, 07 Juli 2018

Tentang Hari Ini

Pagi ini, aku baru saja mengamini janjimu. Aku sudah tebar kebahagiaan disana-sini. Sudah lupa kalau kamu, hanya tukang berjanji.

Pagi harimu yang baru kau mulai dipukul delapan ini, sangat lah berbeda dengan siang hari yang baru pukul dua. Tadi pagi, kau seolah memberikan warna baru dalam pekatnya hariku belakangan. Namun siang ini, kau menodai warna itu, membuat hariku jauh lebih pekat dari sebelumnya.

Aku memang bodoh. Wanita mana yang tenang hatinya jika lelakinya tebar pesona sana sini. Memang salahku, terlalu menyepelekan sifatmu itu. Aku juga bodoh. Wanita mana yang sudah diumbar janji beribu-ribu kali namun masih setia menelan bulat-bulat janji itu?

Kalau kau mau tau isi hatiku, anggaplah kau baru saja melihat puing-puing bangunan tua yang sedang dihancurkan. Aku kokoh, dan begitu kuat. Tapi, aku sudah hancur, dan apalah artinya puing-puing saja, aku bahkan tidak mampu mengatapi diriku sendiri.

Aku tau, kamu ingin yang terbaik buatku, kamu tak mau menjanjikan aku ini itu, tapi kamu adalah kamu. Sifatmu adalah satu dari jutaan hal buruk yang ada dihidupku. Aku adalah salah satu kebodohan yang kian kau manfaatkan.

Kalau kau tak suka lagi, kenapa masih berjanji?
Kalau kau ingin berganti, kenapa memaksa menanti?
Kalau kau memang ingin sudahi, kenapa masih seperti ini?
Harapan dan harapan.
Lagi-lagi harapan yang kau beri
Dan buat aku lupa diri
Kalau sedari dulu, kita sudah sendiri-sendiri.

Maaf ya, aku lagi-lagi mengulangi kebodohanku. Mungkin karna sudah mati rasa?


Sabtu, 14 April 2018

mem·oir

Untuk kamu, yang pernah membahagiakan.


Selamat malam, kamu. Aku ingin bercerita, tentang banyak hal, yang kini hanya bisa kusebut memori.

PERTEMUAN PERTAMA
Aku melihatmu, datang dengan senyum, membawa rentetan bahasa yang masih asing ditelingaku, bercerita menghibur setiap jiwa yang mendengar satu per satu frasa yang kau simpul dengan begitu hangat. Kesanku, kamu sangat lucu.


TAK TERLUPAKAN
Satu dari jutaan kisah dalam hidupku, aku menjadi manusia paling beruntung. Atas segala duka kala itu, aku bisa mengingatmu sebagai satu dari sekian langkah yang mengiringi sedihku.


CEMBURU
Aku mendengar cerita tentangmu dan aku cemburu. Sesimpel itu sampai aku mulai sadar kalau kalau ada yang salah dengan aku.


BAHAGIA
Akhirnya, aku menyimpulkan penutup tahunku dengan rasa penuh bangga dan bahagia. Aku mendapati diriku yang tengah tersenyum walau hanya membayangkannya. Hari itu, percayalah, kalau senyumku adalah satu dari sekian senyum yang paling tulus yang pernah kalian lihat.



JATUH BANGUN
Lika liku ceritaku tak ada ujungnya. Jika aku tak sengaja melewati jalan buntu, segera kuputar balik rodaku supaya bisa menuju persimpangan lain yang masih ada jalan, berharap kalau kalau yang kudapati indah nantinya.


JURANG
Buntu. Aku mulai merasa lelah untuk memutar balik rodaku. Rasanya jalan yang kulalui sudah benar, tapi tak begitu buat mu. Kita malah beradu tentang mana jalan yang benar, tanpa kita tahu kalau ada satu yang mulai lelah mendengar perdebatan kita, hati.


BERHENTI
Sampai dititik ini, aku merasa sangat bersyukur, untuk semua kebahagiaan yang tak lupa kau bagi. Tapi, mungkin memang tak selamanya kebahagiaanmu itu bisa membuat aku merasa bahagia pula. Ada saat dimana yang kau rasakan, tak selaras dengan yang mereka rasakan. Dan di titik inilah, aku memutuskan untuk berhenti. Tak lagi mencari jalan lain dan membiarkan semua perhentian perhentian yang mengantarkan aku sampai disini menjadi memori yang indah.


Terimakasih! 

Kamis, 15 Februari 2018

Maaf

Untuk kamu, yang mungkin sedang melaju dengan rasa riuh dan kacau

Maaf.
Aku tidak bisa mengerti kamu seutuhnya, tak juga bisa membuat kamu bahagia dengan caraku.

Maaf.
Telah aku biarkan egoku menusuk segala rusukmu. Hingga kamu mungkin lelah, mungkin juga mulai menyerah

Maaf.
Karna tak ada yang bisa aku lakukan untuk merubah diriku sendiri, supaya bisa mengerti kamu dan memahami segala hal hal tentangmu

Maaf.
Karna aku sejujurnya benci melihatmu lelah dan mengalah. Benci melihatmu yang sering mengatakan "iya, iya, aku salah, terserah."

Maaf.
Aku lagi lagi menyalahkanmu, menganggap aku yang paling benar, dan merangkai seribu satu kata untuk memenangkan egoku

Maaf.
Karna aku tidak pernah mengerti ada di sisimu, aku sibuk dengan hal-hal yang semestinya tidak kamu campuri, sibuk mencari cara agar kamu tahu segala tentangku, meski nyatanya kamu mungkin tidak harus tau, dan bahkan tidak ingin tau

Maaf, sayang.

Satu hal yang harus kamu ketahui: Aku sekarang sedang takut. Dengan kamu yang semakin sering mengucap "terserah" atau bahkan "aku yang salah".


-dari wanita yang sekarang sedang membiarkan pipinya basah karna dihantui rasa malu meminta maaf

Minggu, 11 Juni 2017

Takut

Minggu sore. Mendung. 

Hari ini, untuk kesekian kalinya aku bercerita tentang dia, laki-laki dengan seribu cerita. Pikirku melayang jauh, membayangkan kalau kalau yang aku takutkan akan terjadi; kalau kalau yang kita (mungkin hanya aku) takpernah harapkan ini terjadi.
Perlahan, kupejamkan mataku, mencoba mengingat kembali satu dua kalimat yang kau ucapkan saat lalu, dengan harapan hatiku bisa lebih damai, tidak mencoba singgah kanan kiri untuk mencari kamu, karna kamu memang tidak pernah berpindah.
Aku, masih belum ingin memintamu pergi, pun dengan kamu. Tetapi, kenapa tak jemu jemunya rasa ini muncul? Rasa dimana aku, kian mempertanyakan semua tentang kamu. Tentang kamu.
Yang manakah celah yang ingin kau tutupi? Yang manakah titik yang coba kau gapai? Beritahu aku. Supaya hati ini tak lagi merasa ragu.

Hari ini, untuk kesekian kalinya, aku bercerita padaNya. Dengan sebulir dua bulir air mata, kuceritakan padanya, tentang cinta yang tak lagi sama; tentang rasa yang tanpa kusadari semakin keluar batas. Aku, tak akan mempertanyakan tentang kamu, kalau kamu lebih awal menjelaskan. Katakanlah. Bicarakan semua tentang rasamu yang tak sanggup aku telusuri. Tunjukkan padaku tentang kata yang kau janjikan dulu, yang kau harapkan selamanya begitu, pun dengan aku.

Kamis, 12 Januari 2017

Janji?

Aku tau. Aku tak boleh menaruh titik curiga pada sosok kamu, tak seharusnya. Sedikit saja kutambahkan butirnya, sudahlah, tak akan lagi sama.

Kamu, dengan logat khas ngotot-mu matimatian mencoba meyakinkan aku, si gadis lugu yang dengan bodohnya benar-benar sedang diambang cinta. Aku, diam saja, mengiyakan setengah mengira-ngira. Kuyakinkan diriku setengah mati, supaya seperti ucapanmu, kita tetap seperti ini.

Namun, hati bukanlah batu, sayang. Hatiku juga punya sudut, dimana aku, si gadis lugu ini juga punya rasa heran, heran akan tingkah lakumu yang semakin lama tak mampu kuresapi dengan akal sehatku. Heran dengan segala bisik sana sini yang semakin lama menghasut pikir baikku tentang kamu, tentang kita.

Mungkinkah?

Aku masih terdiam, tenggelam dalam selimut abu-abuku. Pikirku menerawang. Tentang luasnya duniamu yang tak akan pernah bisa kuraih satu per satu. Duniaku yang sangat sempit, dekat dalam pandangmu, sedang duniamu sangat jauh dari pandangku.

Sejenak, aku meragu. Tentang kata yakin yang kudefinisikan sebagai janji.

Kupejamkan mataku, mencoba menghilang dari semakin rumitnya basa basi tentang cinta. Mencoba supaya seperti yang kau bilang, ini bukan satu-satunya. Tapi, pikirku tak sesempit itu, sayang. Aku kecil-diantara kerumunan pertanyaan dalam benakku.

Apa yang kamu coba lakukan lagi untukku?

Seberapa lama kamu perlu mengenal aku? Supaya kamu bisa menelisik pola pikirku?

Aku masih saja diam. Larut dalam hati yang setengah menangis setengah meredam. Ingin, aku buncahkan segala rasa sesak ini, supaya tak lagi aku tersesat keluar dari pertanyaan pertanyaan bodoh itu.

Tapi, masih saja semuanya menggelayut dalam benakku. Kamu, selalu berusaha mengerti aku, tapi tak benar benar sekalipun kamu melakukannya. Aku benci kebohongan, sayang. Jangan biarkan aku larut dalam kata-kata manis apapun. Aku mau tahu tentang semuanya, semua tentang mu yang aku ingin ketahui, semua tentang kamu yang coba kamu simpan supaya tak jadi luka untukku.

Bicaralah. Katakan dengan logat khasmu. Yakinkan aku supaya aku tak menaruh curiga ini lagi buatmu.

Aku lelah. Aku butuh jawaban. Atas kata yakin yang telah aku definisikan dengan janji, yang semakin lama semakin pudar. Hilang, bersama kenangan itu sendiri.

-untuk yang selalu menyesakkan dengan pertanyaan tak penting, aku benar merindukanmu-

Kamis, 24 Maret 2016

Kisah-ku (kita)

Kamis malam. sunyi. 

Aku merogoh kembali selimut cokelat-ku, membenamkan wajahku kedalamnya, supaya tak terasa lagi sentuhan dingin enam belas derajat yang kusetel. Aku mencoba memejamkan mataku, supaya segera tenggelam dalam mimpi, supaya pergi sebentar dari realita, supaya bisa bertemu lagi dengan sosok itu. Tapi yang kudapati adalah langit-langit kamar ini lagi. Aku belum bisa tidur. Aku belum bisa bertemu sosok itu. Atau aku yang memang sama sekali tak diijinkan menemuinya. 

Aku bangkit. Meraih telepon genggam yang sudah kuletakkan jauh-jauh dariku tadinya. Menyentuh beberapa sudut benda itu dengan harap menemukan sebuah pesan atau apapun dengan namanya. Lagi, kan? Lagi-lagi dia. 

Aku mencoba menyentuh kembali beberapa sisi benda itu, setelah tak kudapati apapun tanda-tanda kehadirannya. Kubalas beberapa pesan-pesan lain, mencoba mengisi kekosongan malam ini. Setidaknya aku tidaklah kesepian. Kuraih headset yang kuletakkan tepat dimeja belakangku sembari mencari alunan apa yang hendak kudengar. Kuputuskan memilih lagu itu.

Kudengar sebuah musik disana, untaian kata-kata yang terucap dari seseorang disana, indah, tapi sakit. Entah aku yang terlalu bodoh atau aku yang tidak pernah lelah menjadi bodoh, aku tak tahu. Aku seolah menambah beban dipundakku, seolah mengoyak ingatanku kembali, Kemana ya, sosok itu? pikirku dalam batin.

Tanpa sadar, aku turut melantunkan kata-kata diujung sana, seolah berduet dengan sang penyanyi disana. Menyanyi layaknya lagu itu memang diperuntukkan kepada kisah ku (kita). Sampai tuts piano terakhir berbunyi, barulah aku tersadar dari lamunanku. Aku baru saja menitihkan air mata. 

Aku menghela nafas panjang. Seolah tahu akan perasaanku, benda itu kini mencoba menghiburku. Tak ada lagi kata-kata lirih yang mungkin menambah bulir air mataku saat ini. Yang ada adalah ribuan kata yang terucap dengan cepat ditambah musik yang menggebu-gebu. Seolah memberiku secercah semangat, supaya aku tak lagi larut dalam kesedihan malam ini.

Aku tersenyum. Kali ini, kurebahkan kembali tubuhku dan memejamkan mataku perlahan. Satu. Dua. Belum sampai tiga detik, aku mendengar sebuah dering singkat. Aku segera membuka mataku sambil mengerenyitkan dahi dan mengutuk bunyi yang coba menganggu tidurku malam ini itu. Kembali, perlahan dengan beberapa ketukan, aku membuka pesan singkat yang baru saja kukutuk itu. Sebelum kembali mengutuk untuk yang ketiga kalinya, aku terdiam sesaat. Tidak. Lebih dari sesaat. Bahkan hentakan musik ditelingaku seolah tak kunjung datang. 

Kenapa harus ada sosok itu? Aku tak tahu harus senang atau sedih. Selalu begini. Bukan pertama atau kedua kali ini terjadi. Selalu, setelah aku melepas, aku kembali dihampiri. Sampai kapan? Aku, manusia biasa, punya rasa jenuh, punya hati, punya rasa sakit. Aku tak tahu kenapa ini bisa terjadi untuk kesekian kalinya. Seperti mendapati pupuk setelah tanamannya mati, kau tahu?

Sebenarnya, apa yang sedang kurasakan ini, apakah kau rasakan juga? Aku meragu. Kupererat genggamanku pada benda itu sembari menerawang pikiran-mu yang tak pernah bisa kujamah. Sampai kapan? Sampai dimana lagi aku kau bawa dalam dunia angan-angan tak jelas ini? Beritahu aku. Supaya aku tahu kapan aku harus berhenti, supaya aku tahu pula akhir dari kisah ku (kita) ini. -m-

Selasa, 06 Januari 2015

Tentang Desember Lalu



Selasa sore. Hujan. Dibulan Desember.


Tadinya, kukira aku selalu berpihak pada Desember. Tapi, ternyata tidak...
Bulan yang kupuja-puja dan kueluh-eluhkan kedatangannya ini tak lagi sama. 
Bukan masalah perpindahan lagi, ini juga bukan kepergian, ini bukan mauku, aku tak tahu apa ini yang dimaksud dengan penyesalan atau perpisahan.



Otakku kembali menerjemahkan berjuta kata beberapa waktu yang lalu. Dibulan yang sama dua tahun yang lalu. Ketika itu, aku masih menyukai Desember, meskipun sebenarnya aku sudah punya alasan untuk membencinya. 
Aneh jika kilas balik itu tiba-tiba terngiang dikepalaku. Aku malah terlihat seolah menumpuk tangis hanya untuk membenarkan sosok-sosok 'kalian'; Membuat aku menjadi sosok yang paling menyesali keadaan ini.


Sebenarnya, tak penting untuk diingat, tapi teringat.
Tak pantas untuk disesali, tapi menangis. Apa ini?

Aku pernah memikirkan datangnya hari ini. Dimana aku pada akhirnya akan kembali menjadi sosok dua tahun lalu. Bahkan aku telah membayangkan hal terburuk sekalipun. Tapi, kali ini berbeda. Bagiku, ini belum saatnya, ini belum waktunya aku merasakan kehilangan.

Ini terjadi, tanpa kutahu kapan semuanya dimulai.
Sebenarnya, siapa yang melempar batu lebih dulu? Aku atau kau?
Pengakuan saja tak cukup. Aku mau diantara kita, akan ada yang meletakkan kembali batu itu ketempat semula. Tapi, kutahu semua tak ada gunanya.
Suatu saat, kau pasti akan melemparkan batu itu (lagi). Seperti yang kurasakan saat ini.

Ini bukan kali pertama kau melemparkan batu itu. Awalnya aku tak merasa terluka, aku hanya mengeluh dan kembali memaafkan.
Ini juga bukan kedua kalinya aku menerima lemparan batu itu lagi, 
bukan juga yang ketiga..
Aku tak bilang ini lemparan keempat, aku tak cukup pandai dan tak cukup jeli menghitung berapa banyak yang kau berikan lalu kau ambil. Sedang kau? Terlalu pandai melempar diam-diam dan aku terlalu bodoh dalam menangkap lemparanmu. Aku malah lagi-lagi terkena kerasnya batu itu, merasakan sakit -dan sakit.

Aku tak bermaksud menyalahkanmu, aku hanya berniat mengungkapkan sisi lelahku ketika tak lelahnya kau lempari aku dengan batu itu.

Kali ini, aku makin memupuk tangisku, semakin banyak yang terngiang dikepalaku, semakin tinggi pula tumpukan tangis itu.

Kau tahu kalau aku selalu kesakitan dilempari batu itu, tapi... kenapa masih saja kau lempar jika kau tak ingin melihatku kesakitan? Sebenarnya kau mau apa? Membuatku terluka lalu berusaha agar aku secepat mungkin meninggalkanmu? Kau ingin hidup tanpaku?

Aku tak mengerti apa yang sedang kau pikirkan, aku tak tahu apa yang sedang kau lakukan sembari aku tersedu-sedu menangisi kepergianmu. Aku juga tak mau tahu apakah kau merasa bersalah atau tidak telah membuat aku menjadi begini rapuhnya. Aku hanya ingin tahu, mengapa lagi-lagi kau melempari batu itu padaku?

Aku sudah cukup lelah. Sudah cukup terluka. Aku tak cukup kokoh untuk tetap mengais senyum dihadapanmu. Inikah yang kau mau? 

Entah apa jawabanmu, apapun itu... satu-satunya yang ada di pikiranku adalah kamu terlanjur melakukannya. Terlanjur melempar batu itu lagi sampai-sampai aku kini telah benar-benar merasakan sakit dan membuang batu itu.

Sadarlah, kau.
Aku juga punya rasa lelah. 
Bukan salahmu, bukan juga mauku. Aku sama sekali tak pernah mengharapkan ini terjadi. 
Tapi setidaknya, aku pernah membayangkan hari ini, dimana sebuah luka semakin lebar dan mengoyak, sebuah pisau semakin tajam dan menusuk.

Aku bukan ingin menyinggungmu.
Hanya ingin kau paham, kenapa aku pada akhirnya memilih jalan ini.

"Aku tengah mencoba, menjadi seseorang - yang tak sanggup menitikkan senyum" -m-

Senin, 14 April 2014

Jalan Terakhir

Senin pagi. Bosan.

"Setiap cerita selalu punya akhir. Entah itu happy ending atau sad ending. 
Setiap cerita juga punya pemeran. Entah itu antagonis atau protagonis.
Setiap cerita juga punya makna. Entah itu tersirat atau tersurat.
Yang jelas, setiap cerita punya alur masing-masing."

Saya bukannya tak ingin keluar dari teka-teki yang sulit ini. Saya hanya belum bisa menemukan jawabannya, hingga harus terperangkap dalam-dalam disini. Menantikan sebuah jawaban yang mungkin akan terbesit dalam benak saya. Menantikan seseorang akan mengulurkan tangannya dan membantu saya keluar dari teka-teki ini. Menantikan hari itu tiba. Dimana penantian saya akan berakhir, baik lewat kamu atau yang lainnya. 
Saya bukannya pemeran utama dalam kisah hidupmu, mungkin. Saya juga bukan sutradara-mu yang dengan mudahnya mengubah alur cerita. Saya bukan penulis yang bisa mengubah jalan hidupmu. Saya hanya bagian kecil dari hidupmu, sampai-sampai kamu sama sekali tak menyadari keberadaan saya. 
Bagimu, saya semu, tak punya arti apa-apa. 

Kamu...
Sangat berbeda dengan saya, yang selalu menjadikan kamu pemeran utama dalam cerita saya. Yang selalu menjadikan kamu sebagai salah satu bagian paling penting dalam hidup saya, sampai-sampai saya lupa siapa kamu. Sampai sampai saya menganggap kamu nyata, padahal kamu hanya mimpi. 

Dan jalan terakhir yang harus saya tempuh adalah menyerah. Menyerah untuk teka-teki itu. Merelakan kamu sebagai mimpi. Dan membiarkan saya jatuh sebagaimana takdir menggariskan kisah hidup saya. 

"Percayalah, hidup bukan sekedar mencoba berdiri saat jatuh, tapi juga mencoba mengikhlaskan apa yang tak seharusnya kamu miliki." -m-


Sabtu, 04 Januari 2014

Pergi

Sabtu malam, hujan.




Pergi dan sepi. Dua hal yang selalu mengunjungi saya setelah suatu pertemuan. Tak akan jadi masalah kalau yang saya temui bukan kamu, mungkin. Tak akan jadi masalah kalau pertemuan kita tak saya lebih-lebihkan kala itu. Tak akan jadi masalah kalau pertemuan singkat itu tak saya ambil hati. Tapi sekarang? Saya terlanjur menaruh hati untuk kamu, sedikit.

Kamu datang pada saya, sesaat. Awalnya saya tak begitu menghiraukan keberadaan kamu, sekalipun kamu datang dengan untaian kata-kata manis itu. Itu hanya sekedar awal. Lalu, saya perlahan mulai menyadari adanya kamu dalam setiap hening saya, saya merasa lengkap, saya merasa ada satu dalam nol. Entah kenapa, saya terlalu gengsi untuk mengakui kalau saya senang dengan adanya namamu dalam layar handphone saya berkali-kali ini. Jujur, saya merasa seseorang dimasa lalu saya telah kembali; melalui kamu.

Untuk sepekan, kamu memperlakukan saya seperti saya adalah satu-satunya kamu, sementara saya tak begitu menunjukkan rasa senang saya buatmu. Entah apakah kamu sadar atau tidak. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, kita masih sama; penuh dengan gurau. 

Jujur, kamu sangat mirip dengan masa lalu saya; amat sangat mirip. Sampai saya harus kembali jatuh untuk kedua kalinya. Hanya sepekan saja, kamu menjadi pelopor penyemangat untuk saya; "hanya sepekan, tak lebih dan tak kurang". Singkat, bukan? Kamu terlihat seperti seorang pemberi harapan palsu, ya? Sadar atau tidak, kamu telah melambungkan saya, kemudian dengan mudahnya menjatuhkan saya.

Kamu pergi. Tak ada lagi namamu yang selalu muncul di layar handphone saya, tak ada lagi gurauan antara kita seperti sepekan lalu. Sepi. Saya merasa kehilangan. Sesingkat itu kamu membuat saya menaruh hati buatmu, dan ternyata sama sekali tak sesingkat itu saya bisa menghilangkan rasa sepi karena kepergianmu. Sebenarnya, tak akan masalah kalau kamu pergi bukan untuk dia; masa lalumu.

Hai, kamu. Disini, saya masih sedikit mengharapkan keberadaan kamu. Saya merasa sepi setelah kamu pergi. Saya rindu sepekan itu. Hanya dua pilihan yang saya inginkan untuk kamu ambil. Apakah kamu akan kembali pada saya tidak hanya sepekan lagi, ataukah kamu lebih baik menerima karma atas sakit yang saya rasa karenamu. Egois, ya? Tapi, kamu harus tau bagaimana pedihnya saat sayap patah ketika terbang. -m-

Kamis, 19 Desember 2013

Maaf, saya ingin p(indah)


Sampai kapan saya harus diam disini? Saya terlampau lelah untuk mengharapkan kamu akan kembali seperti janjimu dulu itu. Saya terlampau sabar untuk terus menunggui kamu yang sebenarnya tak jelas keberadaannya. Saya ingin pergi, karna saya sadar apa yang saya lakukan tak cukup berarti. Mungkin, ini waktunya saya untuk berpindah.
            Mungkin, pindah adalah cara terbaik untuk menyudahi perasaan lelah saya selama ini. Mungkin, dengan pindah, saya bisa mendapatkan kebahagiaan yang selalu saya impikan, tanpa kehampaan, tanpa kebohongan, dan tanpa kepalsuan. Biarkanlah saya menggantungkan kisah kita, saya sudah kehabisan sabar untuk menjemput kamu. Saya sudah bosan, saya ingin pindah. Melepas kenangan dan menjemput kebahagiaan dengan p(indah).
            Tapi tenanglah, saya tak akan membiarkan kamu untuk menjadi butiran angin lalu; sekalipun saya sudah terlanjur sakit karenamu. Saya memang pindah, bahkan mungkin tak akan terbiasa awalnya, tapi saya yakin, pindah adalah jalan terbaik untuk saya. Karena meskipun pindah menyimpan resah, saya percaya pindah juga menyimpan indah. –m–

Selasa, 17 Desember 2013

Ilustrasi: pindah.


Selasa siang. Panas.

Lagi, ini bukan cerita saya, ini hanyalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana rasanya menghilang dari pandangannya, tentang bagaimana rasanya menghindar dari kenyataan cinta, dan tentang bagaimana rasanya pindah menuju sesuatu yang katanya indah. Selamat membaca:)

Sebenarnya, saya sudah lelah hanya untuk menunggui kamu yang tak kunjung datang. Namun, entah kenapa, saya belum ingin berpindah kepada yang lainnya. Sebenarnya, saya tidak ingin terus diam disini, mengharapkan kamu akan datang dengan seonggoh mawar atau ribuan puisi cinta yang nyatanya mungkin tak akan pernah terjadi.

Sejujurnya, saya bingung dengan apa yang saya lakukan. Setiap saya mencoba menghilang dari pandanganmu, kamu malah datang kepada saya. Walaupun kedatangan kamu itu hanya untuk hal kecil yang akan terlupa olehmu, tapi tahukah kamu kalau sebenarnya saya disini sangat bahagia bisa melihat wajahmu lebih dekat? Tahukah kamu kalau dimata saya, kamu adalah sosok sempurna? Sepertinya kamu tidak tahu itu.

Sampai akhirnya, sebuah berita bahagia datang menemui saya pagi itu. Dari kabar-kabar yang beredar, katanya kamu sedang menyukai seseorang. Otomatis saat itu juga, saya langsung bertanya-tanya siapa wanita itu. Dan tanpa dugaan sebelumnya, kamu ternyata dibilang menyukai saya. Jujur, saya merasa tenggelam dalam perasaan bahagia itu sesaat. Walaupun itu hanya sekedar berita dari mereka dan belum tentu fakta. Tapi memang sangat tak bisa dipungkiri betapa melonjaknya parameter hati saya hari itu. Apalagi setelah duduk disamping kamu, lalu kita memulai sedikit percakapan hangat. Bahagia saya adalah karna akhirnya saya bisa merasakan hati kamu mulai mencair dan tidak sebeku dulu lagi. Bahagia saya adalah karna saya bisa menatap kamu lebih lama dari biasanya. Bahagia saya adalah karna saya bisa merasakan cinta kepada kamu, lebih dalam lagi.

Sayangnya, saya memang terlalu bodoh dalam hal cinta. Setelah hari bahagia itu tiba, harusnya saya sudah bersiap akan ada hari buruk pula yang menimpa. Hari ini, waktunya. Seperti biasa, saya menerima pesan singkat dari-mu, membalas pesan itu dengan lagi-lagi berharap kamu akan membawa pesan itu menuju suatu pernyataan cinta. Tapi, saya sama sekali tidak pernah merasa bahwa pembicaraan kita akan berlabuh pada kata cinta. Sebenarnya, saya tak keberatan untuk menunggu lebih lama lagi, tapi saya sama seperti orang lainnya, yang katanya butuh kepastian. Itulah yang membuat saya tanpa sadar memancing kamu menuju curahan hati terdalam kamu yang selama ini telah kamu tutup rapat-rapat.

Raut wajah senang hinggap sesaat ketika kamu mulai bercerita tentang wanita idaman kamu itu. Berjuta keyakinan mulai bermunculan dalam benak saya, kalau hari ini penantian saya akan berakhir. Sampai kamu selesai menceritakan kisah tentang gadis itu, saya masih merasa yakin kalau yang kamu maksud adalah saya. Namun kenyataan yang ada, kamu malah membawa nama dia untuk kita perbincangkan. Kamu malah meruntuhkan harapan saya. Tahukah kamu kalau saya sempat menitihkan air mata saat kamu menyebut namanya? Sadarkah kamu kalau sedari tadi, balasan pesan buatmu adalah sebuah harapan saya? Sadarkah kamu kalau disisi ini, saya mencintai kamu lebih dari kamu mencintainya? Sepertinya kamu tidak sadar, tidak pernah.

Saya masih diam dalam tangis, mencoba mengais-ngais sebongkah kekuatan untuk menghentikan derai air mata ini, untuk tetap tegar dihadapan orang-orang lain, terutama dihadapan kamu. Tapi ternyata tidak. Saya tidak cukup mampu untuk membohongi perasaan kecewa ini. Saya tidak cukup mampu menerima pahitnya perjalanan cinta pertama saya. Jujur, saya lemah dalam hal cinta.

Perlahan, saya mencoba menghapus sedikit demi sedikit memori tentang kamu, mencoba menghilangkan kamu dari pandangan saya, meskipun saya tau kalau itu adalah hal terberat yang pernah saya jalani. Tahukah kamu kalau setiap tanpa sengaja saya melihat kamu, saya langsung pergi kesuatu tempat sepi yang jauh dari siapapun hanya untuk menutupi air mata yang perlahan akan mengalir dari mata ini? Tahukah kamu sudah berapa banyak rintihan air mata hari ini yang mengalir diatas pipi saya? Tahukah kamu kalau saya terlalu sakit untuk mencoba menghilang dari pandanganmu? Tahukah kamu kalau saya juga ingin kamu cari, ingin kamu perhatikan seperti dia yang selalu kamu cari dan selalu kamu perhatikan? Sudahlah, saya sudah terlampau sakit, saya sudah terlampau lelah akan segala kenyataan cinta pertama saya yang ternyata pahit dan getir.

Setelah benar-benar terbangun dari mimpi saya, barulah saya sadar siapa saya di mata kamu, dan siapa kamu dimata saya. Kita mungkin memang punya impian yang sama, sama-sama ingin mengejar yang dicinta seperti apa katamu waktu itu. Tapi, impian kita sangat berlawanan. Tidak mungkin saya harus selamanya mengejar kamu selagi kamu terus-terusan mengejar dia. Seperti kedua roda sepeda yang tak akan pernah bertemu ketika semuanya saling maju. Begitupun saya dan kamu. Mungkin benar kata orang, cinta memang tak harus memiliki. Mungkin ini adalah saatnya saya mengakhiri sisa harapan kecil yang saya genggam dan melepaskannya untuk berpindah menuju sesuatu yang indah. Pindah untuk sesuatu yang akan membawa saya menuju bahagia. Pindah untuk mencari harapan baru yang bukan sekedar impian. Pindah untuk menemui cinta yang nyata.
Sampai hari ini, saya masih mengingat jelas tentang kamu. Masih sesekali menyentuh bayang-bayangmu dalam mimpi saya. Saya sama sekali tidak berniat lagi untuk menghindar darimu. Saya juga tidak ingin melupakan kamu yang pernah mengisi hati saya, saya tidak mampu semudah itu untuk menghilangkan kamu dari ingatan saya. Yang saya perlu dan inginkan hanyalah sekedar berpindah. Dari hati-mu menuju hati lain; dari kehampaan menuju keberadaan; dari harapan menuju kepastian; dan dari kesedihan menuju kebahagian.

Hanya sekedar berpindah, siapa tahu, perpindahan akan mengantarkan saya pada sesuatu yang lebih indah. Move is better, isn’t it? -m-

Kamis, 24 Oktober 2013

Ilustrasi

Ini bukan cerita saya, bukan juga dongeng-dongeng yang pernah terngiang ditelinga dulu. Ini hanyalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana sakitnya menunggu seseorang yang tak pernah mau ditunggu, bagaimana sulitnya mengungkapkan tiga kata yang sering orang bilang, dan bagaimana perihnya diabaikan oleh seseorang yang selalu diperhatikan. 

      Sebenarnya, saya sudah menyimpan lama perasaan ini. Sejak dulu, sebelum kamu mengetahui nama saya, sebelum saya menjadi teman dekatmu. Ketika itu, kita berada dalam jarak yang dekat, tanpa kamu tahu, saya mengamati kamu. Berdiri tepat dibelakang saya, sedang bercengkerama dengan seseorang dibelakang saya, salah satu temanmu. Dengan suara khas kamu, kamu mulai bercerita kepada dia tentang "game" yang kamu mainkan di handphone-mu tadi. Kamu bilang, kamu baru saja memenangkan game tersebut dengan nilai yang mengalahkan nilai temanmu. Saya melihat lagi kebelakang, pura-pura mencari sesuatu didalam tas yang telah bertaut dalam pundak saya, hanya untuk melihat kamu. Tidakkah kamu tahu? Saya diam-diam memperhatikan kamu? Mencari celah kecil supaya bisa melihat senyum kamu. Kamu pastinya tidak tahu.
      Lalu, setelah beberapa lama kita berada dalam satu kelas yang sama, saya masih sama seperti dulu, mencuri-curi waktu memperhatikan kamu dan mencari perhatian dari kamu. Sampai akhirnya, kita berada dalam satu kelompok tugas dan saling bertukar nomor. Saya sering sekali mencoba mencari alasan untuk memulai sms hanya demi melihat balasan dari kamu yang mungkin saja memberi emot titik dua tutup kurung. Tapi, setiap saya mengirimkan pesan, saya hanya mendapatkan kamu yang sepertinya datar-datar saja. Padahal, kalau kamu mau tahu? sudah berapa banyak saya mengetik dan menekan tombol "delete" hanya untuk mengirimkan satu pesan buatmu? Kamu tidak pernah tahu. Karna kamu menganggap saya biasa.
      Sampai suatu hari, saya kembali mengirimkan pesan untukmu. Melalui sebuah permainan yang sedang booming saat itu, saya mengajak kamu untuk bermain bersama saya. Truth namanya, saya meminta kamu untuk jujur tentang siapa yang kamu anggap paling spesial selain keluargamu dan Tuhan. Kamu tidak menjawab, tapi saya tahu ada yang kamu sembunyikan. Beberapa hari yang lalu, kamu sempat masuk dalam deretan gossip kelas. Katanya, kamu punya perasaan khusus untuk dia. Ya, dia yang memang cantik, dan terlihat sempurna. Entah saya yang terlalu menyanjungnya atau memang kenyataannya. Sampai akhirnya kamu bilang kepada saya kalau kamu paling benci menunggu. Entahlah, kenapa saya sedikit merasa sakit mendengar ucapan kamu. Sepertinya kamu harus menunggu dia yang sudah mencairkan hati kamu. Sampai saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus saya menunggu kamu yang tidak pernah menginginkan untuk ditunggu saya? Kenapa harus dia yang membuat kamu rela menunggu meskipun sebenarnya kamu benci menunggu? 
       Lalu, kamu mengutarakan balik pertanyaan yang sempat saya tanyakan buatmu. Entah apa yang harus saya jawab. Jujur memang katanya indah. Tapi, masihkah jujur itu indah saat kita tidak merasa bahagia atas kejujuran kita? Setelah sempat menghapus pesan dan mengetik lagi beberapa kali, saya memutuskan untuk tidak mengungkapkan tiga kata itu. Rasanya, sulit untuk mengaku suka pada orang yang sama sekali tidak menaruh hati untuk kamu. Bukankah, begitu? 
      Kamu masih belum mengungkap siapa orang yang spesial bagimu, sampai setelah lebih dari dua puluh kali saya menanyakannya, kamu masih belum ingin mengatakan. Sebenarnya, saya tidak ingin mendengarnya jika yang kamu maksud adalah dia. Sebenarnya, saya tidak ingin dikecewakan. Tetapi, bukankah wanita butuh kepastian? Tahukah kamu kalau saya begitu benci membawa namanya untuk kita perbincangkan? Tapi apa boleh buat, bukan hak saya untuk protes atau mengeluh dan memaksa kamu memilih saya. Saya bukan pilihan kamu, sepertinya.
      Bahkan, seberapapun banyaknya bentuk perhatian saya kepada kamu, kamu tetap mengabaikannya. Malah saya tidak tahu apakah kamu menyadari atau tidak kalau saya sudah memperhatikan kamu lebih dari teman. Sepertinya, kamu tidak tahu itu, tidak peka. Entahlah, saya yang terlalu berharap atau kamu yang terlalu kejam dalam hal ini. Yang saya tahu, saya ingin kamu menyadari bahwa saya tidak ingin kamu abaikan, tidak ingin kamu acuhkan. Boleh saja, bukan, apabila saya menaruh setitik harapan kepada kamu? Supaya saya tau bagaimana rasanya diperhatikan, supaya saya berhenti merasakan lelah karena diabaikan. Bisakah?

Minggu, 29 September 2013

Hujan hari ini.

Hari ini langit tidak baik. Ia menampakkan tangisnya yang mengalir cukup deras. Membuat seharian ini saya harus menarik ulur selimut dan menuliskan sesuatu yang mengingatkan saya kepada hujan. Hujan hari ini  menjadi isyarat penuh bagi saya kalau memang sejatinya langit tak akan pernah membiarkan temannya disini kesepian hari ini. Ia mampu membuat orang-orang mengenang masa lalunya. Lewat hujan, misalnya. Teringat kembali beberapa waktu yang lalu, saya pernah bicara tentang pengalaman saya menuliskan beberapa harapan dalam perahu-perahu kecil. Saat ini saya sedang berusaha membenarkan buraman memori itu dalam benak saya. Ingin rasanya waktu itu diulang. Dimana saya masih optimis dengan harapan-harapan saya waktu itu. Dimana saya mampu menyunggingkan seutas senyum dalam secarik kertas yang seolah menjadi perahu kertas waktu itu. Sekarang saya hanya diam dalam kenangan. Mencoba mengingat-ingat lagi memori tentang hujan. Oh ya, dulu saya pernah mendapat sebuah kalimat dari seseorang yang tanpa saya ingat siapa orang itu. Katanya, dia menyukai hujan karena hujan bisa membuat air mata kita tak terlihat walaupun kita menangis. Saya sepenuhnya menyetujui ungkapan itu. Rasanya, terlalu banyak kebaikan hujan terselip diantara kekurangannya. Entahlah apakah hujan hari ini juga akan membawa kenangan indah tersendiri bagi saya atau malah menambah kenangan buruk tentang hujan. Yang saya tau, saya menyukai saat-saat hujan, dimana saya bisa dengan mudahnya tertidur lelap dan bermimpi untuk sesuatu yang indah atau malah memimpikan sesuatu yang benar-benar saya impikan.  

Hujan hari ini, akankah memberi
kenangan baru bagi saya?

Jumat, 30 Agustus 2013

Harapan yang lalu dan angan yang sekarang

Setelah membaca suatu karya tulis mungil tentang dia, saya mulai berpikir kembali ke masa lalu saya. Ingin rasanya saat-saat itu dihapuskan dari ingatan saya. Wajar, kan, kalau seseorang meletakkan harapan kecil untuk masa depan? Bukankah saya pernah bilang kepada seseorang disana kalau tanpa harapan kita tak tahu kemana akan melangkah? Samapun dengan saya yang pada waktu itu sedang menaruh harapan-harapan kecil lewat kertas berbentuk perahu yang saya alirkan disekolah dulu. Sampai saat ini, saya merasa harapan itu perlahan pergi. Entah kemana harapan itu mengalir. Yang jelas, saya terlalu takut untuk mengakui kalau harapan itu terlalu mustahil. 
Alunan suara merdu seseorang disana yang terus-terusan menyebut Maybe Tomorrow saat ini menjadi lagu yang menemani saya dalam sepi. Membawa saya menuju titik awal dimana saya mulai menaruh harapan itu. Apakah saya harus meninggalkan harapan itu untuk membawa angan yang baru? Mungkinkah harapan itu memang benar mustahil adanya? Sampai-sampai saya terus-terusan menyebut 'tidak' ketika semua orang mulai menyinggung satu dari tiga harapan itu? 
Terdengar sedikit aneh untuk memaksa harapan itu terwujud untuk saya. Masih saya ingat jelas bagaimana ucapan saya dengan riangnya berkata 'Ini akan terjadi' saat saya mengalirkan harapan itu. Masih sangat melekat diingatan saya hari itu; Dimana hujan menjadi saksi bahwa saya menuliskan harapan saya dan mengirimkannya kepada Neptunus. Berharap seperti sebuah novel yang saya baca, kalau Neptunus akan membalas surat saya dengan menghadirkannya didunia nyata. Ah, itu terlalu mimpi, mungkin.
Sekarang saya merasa harapan itu benar-benar bukan untuk dibawa kedunia nyata. Mungkin, membiarkan harapan itu semu disana lebih baik daripada berkelanjutan menunggui harapan yang tak pasti. Meskipun disini seseorang yang ragu untuk membawa angan yang baru mulai kebingungan mendapati dirinya yang tengah mengais-ngais kenangan dulu.

Jumat, 07 Juni 2013

(again)

And for the umpteeth time i get this. I do not know how karma is, maybe this state called karma? I do not know. That i know, all about this problem only because me. Not someone else. This is my mistakes and not anyone else. Cause i broke all the belief and cause i'm to fool to face the world. Here is me who admit my mistakes, here is me who always give bad for you, here is me who can say i'm sorry. 

Selasa, 14 Mei 2013

Someday

Ketika mulai diingkari, masihkah janji itu dibutuhkan? Rasanya tanpa berjanji mungkin lebih baik. Tapi, nyatanya janji itu telah terbuat dan i have nothing to say untuk janji "lalu" ini. Tidakkah ada sebuah jawaban atas pertanyaan itu? Bukankah ketika sebuah pertanyaan dilontarkan, ada jawaban yang diharapkan? Ini bukan curahan hati yang saat ini sedang dilanda bingung, bukan juga bermaksud untuk menyindir sosok seorang yang dipanggil "2". Ini hanya sekedar penepatan janji yang secara tidak langsung akan disadari dan dipahaminya suatu waktu nanti.