Kamis, 24 Oktober 2013

Ilustrasi

Ini bukan cerita saya, bukan juga dongeng-dongeng yang pernah terngiang ditelinga dulu. Ini hanyalah sebuah ilustrasi tentang bagaimana sakitnya menunggu seseorang yang tak pernah mau ditunggu, bagaimana sulitnya mengungkapkan tiga kata yang sering orang bilang, dan bagaimana perihnya diabaikan oleh seseorang yang selalu diperhatikan. 

      Sebenarnya, saya sudah menyimpan lama perasaan ini. Sejak dulu, sebelum kamu mengetahui nama saya, sebelum saya menjadi teman dekatmu. Ketika itu, kita berada dalam jarak yang dekat, tanpa kamu tahu, saya mengamati kamu. Berdiri tepat dibelakang saya, sedang bercengkerama dengan seseorang dibelakang saya, salah satu temanmu. Dengan suara khas kamu, kamu mulai bercerita kepada dia tentang "game" yang kamu mainkan di handphone-mu tadi. Kamu bilang, kamu baru saja memenangkan game tersebut dengan nilai yang mengalahkan nilai temanmu. Saya melihat lagi kebelakang, pura-pura mencari sesuatu didalam tas yang telah bertaut dalam pundak saya, hanya untuk melihat kamu. Tidakkah kamu tahu? Saya diam-diam memperhatikan kamu? Mencari celah kecil supaya bisa melihat senyum kamu. Kamu pastinya tidak tahu.
      Lalu, setelah beberapa lama kita berada dalam satu kelas yang sama, saya masih sama seperti dulu, mencuri-curi waktu memperhatikan kamu dan mencari perhatian dari kamu. Sampai akhirnya, kita berada dalam satu kelompok tugas dan saling bertukar nomor. Saya sering sekali mencoba mencari alasan untuk memulai sms hanya demi melihat balasan dari kamu yang mungkin saja memberi emot titik dua tutup kurung. Tapi, setiap saya mengirimkan pesan, saya hanya mendapatkan kamu yang sepertinya datar-datar saja. Padahal, kalau kamu mau tahu? sudah berapa banyak saya mengetik dan menekan tombol "delete" hanya untuk mengirimkan satu pesan buatmu? Kamu tidak pernah tahu. Karna kamu menganggap saya biasa.
      Sampai suatu hari, saya kembali mengirimkan pesan untukmu. Melalui sebuah permainan yang sedang booming saat itu, saya mengajak kamu untuk bermain bersama saya. Truth namanya, saya meminta kamu untuk jujur tentang siapa yang kamu anggap paling spesial selain keluargamu dan Tuhan. Kamu tidak menjawab, tapi saya tahu ada yang kamu sembunyikan. Beberapa hari yang lalu, kamu sempat masuk dalam deretan gossip kelas. Katanya, kamu punya perasaan khusus untuk dia. Ya, dia yang memang cantik, dan terlihat sempurna. Entah saya yang terlalu menyanjungnya atau memang kenyataannya. Sampai akhirnya kamu bilang kepada saya kalau kamu paling benci menunggu. Entahlah, kenapa saya sedikit merasa sakit mendengar ucapan kamu. Sepertinya kamu harus menunggu dia yang sudah mencairkan hati kamu. Sampai saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus saya menunggu kamu yang tidak pernah menginginkan untuk ditunggu saya? Kenapa harus dia yang membuat kamu rela menunggu meskipun sebenarnya kamu benci menunggu? 
       Lalu, kamu mengutarakan balik pertanyaan yang sempat saya tanyakan buatmu. Entah apa yang harus saya jawab. Jujur memang katanya indah. Tapi, masihkah jujur itu indah saat kita tidak merasa bahagia atas kejujuran kita? Setelah sempat menghapus pesan dan mengetik lagi beberapa kali, saya memutuskan untuk tidak mengungkapkan tiga kata itu. Rasanya, sulit untuk mengaku suka pada orang yang sama sekali tidak menaruh hati untuk kamu. Bukankah, begitu? 
      Kamu masih belum mengungkap siapa orang yang spesial bagimu, sampai setelah lebih dari dua puluh kali saya menanyakannya, kamu masih belum ingin mengatakan. Sebenarnya, saya tidak ingin mendengarnya jika yang kamu maksud adalah dia. Sebenarnya, saya tidak ingin dikecewakan. Tetapi, bukankah wanita butuh kepastian? Tahukah kamu kalau saya begitu benci membawa namanya untuk kita perbincangkan? Tapi apa boleh buat, bukan hak saya untuk protes atau mengeluh dan memaksa kamu memilih saya. Saya bukan pilihan kamu, sepertinya.
      Bahkan, seberapapun banyaknya bentuk perhatian saya kepada kamu, kamu tetap mengabaikannya. Malah saya tidak tahu apakah kamu menyadari atau tidak kalau saya sudah memperhatikan kamu lebih dari teman. Sepertinya, kamu tidak tahu itu, tidak peka. Entahlah, saya yang terlalu berharap atau kamu yang terlalu kejam dalam hal ini. Yang saya tahu, saya ingin kamu menyadari bahwa saya tidak ingin kamu abaikan, tidak ingin kamu acuhkan. Boleh saja, bukan, apabila saya menaruh setitik harapan kepada kamu? Supaya saya tau bagaimana rasanya diperhatikan, supaya saya berhenti merasakan lelah karena diabaikan. Bisakah?

Minggu, 29 September 2013

Hujan hari ini.

Hari ini langit tidak baik. Ia menampakkan tangisnya yang mengalir cukup deras. Membuat seharian ini saya harus menarik ulur selimut dan menuliskan sesuatu yang mengingatkan saya kepada hujan. Hujan hari ini  menjadi isyarat penuh bagi saya kalau memang sejatinya langit tak akan pernah membiarkan temannya disini kesepian hari ini. Ia mampu membuat orang-orang mengenang masa lalunya. Lewat hujan, misalnya. Teringat kembali beberapa waktu yang lalu, saya pernah bicara tentang pengalaman saya menuliskan beberapa harapan dalam perahu-perahu kecil. Saat ini saya sedang berusaha membenarkan buraman memori itu dalam benak saya. Ingin rasanya waktu itu diulang. Dimana saya masih optimis dengan harapan-harapan saya waktu itu. Dimana saya mampu menyunggingkan seutas senyum dalam secarik kertas yang seolah menjadi perahu kertas waktu itu. Sekarang saya hanya diam dalam kenangan. Mencoba mengingat-ingat lagi memori tentang hujan. Oh ya, dulu saya pernah mendapat sebuah kalimat dari seseorang yang tanpa saya ingat siapa orang itu. Katanya, dia menyukai hujan karena hujan bisa membuat air mata kita tak terlihat walaupun kita menangis. Saya sepenuhnya menyetujui ungkapan itu. Rasanya, terlalu banyak kebaikan hujan terselip diantara kekurangannya. Entahlah apakah hujan hari ini juga akan membawa kenangan indah tersendiri bagi saya atau malah menambah kenangan buruk tentang hujan. Yang saya tau, saya menyukai saat-saat hujan, dimana saya bisa dengan mudahnya tertidur lelap dan bermimpi untuk sesuatu yang indah atau malah memimpikan sesuatu yang benar-benar saya impikan.  

Hujan hari ini, akankah memberi
kenangan baru bagi saya?

Jumat, 30 Agustus 2013

Harapan yang lalu dan angan yang sekarang

Setelah membaca suatu karya tulis mungil tentang dia, saya mulai berpikir kembali ke masa lalu saya. Ingin rasanya saat-saat itu dihapuskan dari ingatan saya. Wajar, kan, kalau seseorang meletakkan harapan kecil untuk masa depan? Bukankah saya pernah bilang kepada seseorang disana kalau tanpa harapan kita tak tahu kemana akan melangkah? Samapun dengan saya yang pada waktu itu sedang menaruh harapan-harapan kecil lewat kertas berbentuk perahu yang saya alirkan disekolah dulu. Sampai saat ini, saya merasa harapan itu perlahan pergi. Entah kemana harapan itu mengalir. Yang jelas, saya terlalu takut untuk mengakui kalau harapan itu terlalu mustahil. 
Alunan suara merdu seseorang disana yang terus-terusan menyebut Maybe Tomorrow saat ini menjadi lagu yang menemani saya dalam sepi. Membawa saya menuju titik awal dimana saya mulai menaruh harapan itu. Apakah saya harus meninggalkan harapan itu untuk membawa angan yang baru? Mungkinkah harapan itu memang benar mustahil adanya? Sampai-sampai saya terus-terusan menyebut 'tidak' ketika semua orang mulai menyinggung satu dari tiga harapan itu? 
Terdengar sedikit aneh untuk memaksa harapan itu terwujud untuk saya. Masih saya ingat jelas bagaimana ucapan saya dengan riangnya berkata 'Ini akan terjadi' saat saya mengalirkan harapan itu. Masih sangat melekat diingatan saya hari itu; Dimana hujan menjadi saksi bahwa saya menuliskan harapan saya dan mengirimkannya kepada Neptunus. Berharap seperti sebuah novel yang saya baca, kalau Neptunus akan membalas surat saya dengan menghadirkannya didunia nyata. Ah, itu terlalu mimpi, mungkin.
Sekarang saya merasa harapan itu benar-benar bukan untuk dibawa kedunia nyata. Mungkin, membiarkan harapan itu semu disana lebih baik daripada berkelanjutan menunggui harapan yang tak pasti. Meskipun disini seseorang yang ragu untuk membawa angan yang baru mulai kebingungan mendapati dirinya yang tengah mengais-ngais kenangan dulu.

Rabu, 21 Agustus 2013

Truth or Dare

Niatnya cuma iseng dan itung-itung ngisi waktu liburan kemaren, Eh, taunya jadi deh buku dadakan yang dibuat sedemikian rupa semampu pikiran yang udah full sama kegiatan-kegiatan persiapan mos yang absurd.

Taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!










Jumat, 07 Juni 2013

(again)

And for the umpteeth time i get this. I do not know how karma is, maybe this state called karma? I do not know. That i know, all about this problem only because me. Not someone else. This is my mistakes and not anyone else. Cause i broke all the belief and cause i'm to fool to face the world. Here is me who admit my mistakes, here is me who always give bad for you, here is me who can say i'm sorry. 

Rabu, 05 Juni 2013

Maybe..♥ #last

“Sel, tugas Pak Bondan udah buat?” tanya Ocha menghampiri Selline yang tengah duduk santai di taman menikmati secangkir kopi instan.
“Udah. Kenapa?”
“Boleh pinjem? Aku udah 2 kali missed pelajaran Pak Bondan. Jadi, you know lah.”
“Iya, pinjem aja.”
“E.. sel?”
“Ya?”
“Kemarin, Joseph bbm aku.” Ocha kembali meneruskan ucapannya, “Dia nanya-nanyain kamu tuh.”
“Apa?”
“Ya, nanya-nanya biasa. Kamu masih baik-baik aja kan sama dia?”
Selline menarik nafas panjang, “Ocha, sudah dari setahun yang lalu kan aku bilang, aku itu gak pacaran sama Joseph.” nada Selline mulai meninggi.
“Iya-iya. Aku sih emang agak gak percaya, tapi ya kalo dipikir-pikir, gak mungkin juga. Ah, udahlah.”
“Hm..” jawab Selline acuh. Entah apa yang terbesit dipikirannya. Semuanya terasa runyam.
“Sel?” Ocha kembali menyebut nama itu.
“Kenapa?” Selline menjawab dengan nada yang tinggi.
Kali ini, Ocha membatalkan apa yang ingin ia ucapkan. Biarlah Selline mengetahuinya sendiri nanti.
Hari-hari dijalani Selline seperti biasa, tanpa ada yang special atau menarik. Sudah terlalu sulit baginya mendapatkan yang special semenjak malam itu. Meskipun ada Leo yang setiap hari menjadi ojek-nya bahkan ada Arfan yang setiap minggu selalu membawakannya setangkai mawar putih, tetap saja semua itu tidak sehangat dulu. Sampai hari ini tiba. Hari dimana Selline harus merasakan jantungnya berdetak 1500 kali permenit dan matanya sudah 100 detik tidak berkedip hanya karena orang ini.
“Wow bro! Kabar itu bener ternyata.” ujar seseorang menepuk pundak laki-laki itu.
“Kabar?”
“Ya, Joseph pindah kesini. Gitu kata temen-temen yang lain, ternyata bener. Kenapa pindah man?” Roy menyunggingkan senyumnya.
Selline hanya bisa menatap itu dari kejauhan. Ia bertanya-tanya dalam hati, kenapa ia harus dipertemukan dengan masa lalu?
“Sebenernya, waktu itu aku mau kasih tau kamu sel, tapi kamunya kayaknya lagi marah gara-gara aku ngobrolin Joseph.” Ocha menyadari bagaimana seorang perempuan yang duduk disebelahnya itu begitu terperangah melihat kehadiran “teman lama”.
Tak banyak yang ia lakukan. Berjalan bersama Roy entah kemana. Sementara Selline hanya melihat “ia” dari kejauhan. Sesak rasanya. Terlalu berat untuk menghadapi masa lalu. Kenapa masa lalu ini datang kembali?
“Dia.. masuk fakultas apa?”
“Hukum sel, sama kayak kita. Di Jakarta, dia sering bolos, jadi udah berapa kali dapet SP. Sampe akhirnya orang tuanya maksa dia ikut ortunya disini. Katanya, biar ga bolos.” Ocha menjelaskan.
“Dia tau aku disini?”
“Ya iyalah. Makanya dia mau kesini.” Elis menjawab dengan lugunya.
“Oh.” Jawabnya pelan bahkan hampir tak terdengar oleh kedua temannya.
Selline tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia hanya diam, terpaku masih menatap sosok seorang dari belakang itu tanpa berkata apa-apa. Masih aneh, rasanya. Debar jantung, mata yang terbelalak, dan tubuh yang seakan kaku itu tidak dapat dipungkiri masih menyimpan secercah harapan. Kali ini benar, ini bukan kelabu. Ini nyata dan perlahan, Selline mulai menyunggingkan senyumnya kearah kedua temannya. Ocha dan Elis hanya saling melirik dan seakan mengerti maksud senyuman itu.
***
Ini adalah hari baru, Selline mencoba membuka buku usang yang tersimpan rapi di laci meja kamarnya. Ia tersenyum melihat sebuah tulisan tinta hitam yang telah memiliki jawaban, “Ya”, ujarnya dalam hati, sambil menatap lembar paling akhir dari buku harian itu, “God has given to me my destiny, J”. Segera, ia menyelipkan sebuah kertas kecil dihalaman paling akhir buku itu. “This day is the 20nd ours. You’re truly mine, and I’m truly yours, J”

Nb:
Selamat datang kembali masa lalu, inikah yang mereka sebut tentang cinta? –kalimat terakhir Selline dalam buku hariannya yang ia tulis dua puluh tiga tahun yang lalu.


Senin, 27 Mei 2013

Ass: Wedding Invitation


Baru-baru ini dapet tugas akhir semester dari guru bahasa inggris untuk buat undangan, boleh pilih antara birthday invitation / wedding invitation. Saya sama kedua temen absurd yang satu kelompok sama saya akhirnya mutusin buat pilih wedding invitation. 
Ceritanya nih Ms.Yeni kasih tugas itu udah dari 17 Mei yang lalu, tapi, karna dikumpulnya tanggal 24, mulai deh kerja moloorr. Yahh, wajar aja sih, soalnya 18-19 itu ada kegiatan kemah disekolah, jadi mesti banyak persiapan, tanggal 20-21 lagi padet-padetnya ulangan, jadi ya cuma bisa buat pas lagi free, ya tanggal 22&23. Bilangnya sih iya mau kerja kelompok, pas sampe ke markas kelas yang jatuh tepat di rumah saya, eh malah makan kentang+buat pr akuntansi yang tiba-tiba dikasih. Okesip, ini molor (aja). Besoknya, saya sama kedua temen saya lanjut ngerjain tugas bahasa inggris (E? Lanjut?). Kali ini waktunya cuma dari jam setengah 3 sampe jam setengah 5. Jadi mesti bener-bener gesiiitttt gesiiittt iritt. Wajar sihya, abisnya temen saya itu ada yang rumahnya jauh. Kalo dari rumah saya aja bisa 2 jam-an kerumahnya.Yaah, resiko pelajar lahya.
Mulai ngebuat segala sesuatu yang berkaitan dengan wedding invitation yang udah didesain kemaren, bener-bener kewalahan pas tau udah jam setengah 5 tapi masih belom nempel apapun. Langsung kerja super gesit dan alhasil, jadi deh Wedding Invitation "Billy & Patricia" (Entah siapa) ala-ala Paris gitu. Hehe. 
nb: dibuat dengan penuh perjuangan 













Gimana undangannya? :D hhi, ada yang minat buat pesen? Kalo ada contact personnya ke @LidyaMarselina, @PupuJuniarR, sama @Vanes_279 yaaah (eleh-..-) hahaha



Selasa, 14 Mei 2013

Someday

Ketika mulai diingkari, masihkah janji itu dibutuhkan? Rasanya tanpa berjanji mungkin lebih baik. Tapi, nyatanya janji itu telah terbuat dan i have nothing to say untuk janji "lalu" ini. Tidakkah ada sebuah jawaban atas pertanyaan itu? Bukankah ketika sebuah pertanyaan dilontarkan, ada jawaban yang diharapkan? Ini bukan curahan hati yang saat ini sedang dilanda bingung, bukan juga bermaksud untuk menyindir sosok seorang yang dipanggil "2". Ini hanya sekedar penepatan janji yang secara tidak langsung akan disadari dan dipahaminya suatu waktu nanti.