Jumat, 26 Juni 2015

WHO AM I ?

[Diikutkan untuk Ramadhan Giveaway dengan tema "Find The Right"]

15 Januari 2013

Aku tersentak kaget. Puluhan mata tertuju padaku.
“Kamu…?” sahut seorang laki-laki dengan seragam paling berantakan diantara yang lainnya.
“Gisel!!” sahut yang lain lagi disebelah sana.
Aku hanya terdiam sementara mereka sibuk berbisik satu sama lain. Aku mencoba menerka apa yang jadi bahan pembicaraan mereka tapi otakku terlalu dangkal.
“Hah???” sentak seorang perempuan yang baru masuk dan menjatuhkan tumpukan buku yang dia bawa. Ia berkacamata-dengan tatanan rambut yang lebih mirip Dora The Explorer, dengan seragam yang sangat rapi bak tak pernah tersentuh, dan sepatu kets putih yang sangat mengkilap, kuberi dia nilai 9 untuk kerapiannya.
Aku bingung apa yang harus kulakukan. Seisi kelas 2-D sepertinya sangat tak mengharapkan keadaanku. Entah apa yang salah dariku, bahkan tak satupun ucapan mereka yang dengan jelas dicerna telingaku.
Seorang perempuan masuk dan menenangkan murid-murid.
“Anna, coba perkenalkan diri dulu.” perintahnya tak lama setelah kelas mulai terlihat tenang.
“Hai.. Namaku Anna, Anna Pierre. Kuharap kedatanganku disini sama sekali tak menjadi beban buat kalian.” sapaku diiringi senyuman yang tak kutahu apakah terlihat tulus atau ketus.
“Ah, tak bisa kupercaya.”.. “Dia bilang namanya Anna?”… “Dia hidup lagi!”
Aku terperangah. Kata-kata terakhir yang terngiang ditelingaku agak mengagetkan. Pasti ada sesuatu denganku.
“Anna, dulu dikelas ini ada seseorang yang wajahnya mirip sekali dengan kamu, namanya Gisel, tapi ia sudah meninggal saat kemah dua bulan yang lalu. Jadi tolong kamu maklumi ya, mereka mungkin sedikit kaget.” Ibu Irene mencoba menjawab pertanyaan yang sedari tadi tak juga aku lontarkan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Kamu dari mana?” suara itu terdengar dari laki-laki yang diujung sana. Semua mata kini tertuju pada laki-laki itu. Aku tak tahu seperti apa sebenarnya kelas ini. Mereka terlihat membingungkan.
“Aku pindahan dari salah satu sekolah swasta di Jogja.” jawabku santai mencoba mengabaikan tatapan aneh dan kaget mereka.
Hampir 15 menit aku berdiri disana, sebelum akhirnya aku duduk disebelah perempuan yang kuberi nilai 9 tadi.
“Hai..” sapaku singkat.
Dia hanya menoleh dan tersenyum sedikit kepadaku.
“Anna, kenapa kamu bisa pindah kesini?” tanya seorang perempuan dibelakangku.
“Bulan lalu, panti asuhan tempat-ku tinggal kena musibah. Kebakaran, jadi kami hanya mengandalkan dana saluran dari masyarakat, tapi masih kurang. Sampai akhirnya datang seorang wanita menawarkan menjadi donator panti asalkan kami mau pindah ke Bandung. Jadi Ibu panti kami memutuskan untuk pindah kesini.” ceritaku yang didengar seksama olehnya. Tidak. Tidak hanya dia, seisi kelas bahkan mendengarnya.
“Kalau gitu, salam kenal ya.. Aku Tarra.” ujar teman sebangkuku.
“Aku Marsya.” ucap perempuan dibelakangku sambil menyunggingkan senyumnya. Dia tak begitu cantik, tapi entah kenapa aku suka dengan tatanan poni datar ditambah aksen pita dirambutnya, memberi kesan imut dan aku memberinya 8 untuk penampilannya.
“Oh ya, 2 bulan lalu, kami kemah ke Jogja lo, disana temen deket kami Gisel meninggal.” suaranya merendah.
“Sya! Aku kan udah bilang sama kamu, jangan pernah bilang kalau dia udah meninggal!Toh sampe sekarang dia masih belum ditemuin kan!” bentak Tarra mendinginkan suasana.
Marsya cuma bisa menunduk.
“Hilang?” tanyaku memberanikan diri.
“Iya, Na. Gisel terpisah dari rombongan waktu kami outbond di tengah hutan. Dia bilang dia cuma mau ambil topinya sebentar di camp, tapi dia ngga pulang-pulang lagi. Kami udah coba cari tapi masih nggak ketemu. Yang bisa kami temukan cuma syal dia dipinggir sungai disana. Orang-orang yakin kalau dia udah meninggal. Tapi aku yakin kalau dia masih hidup. Pasti.” ceritanya sedikit lirih. Dari ceritanya, sepertinya Tarra adalah teman baik Gisel. Wajar saja kalau dia yang paling kaget dengan kedatanganku disini.
Aku masih mengamati seisi kelas. Mencoba menghafal nama mereka dengan melihat buku absensi kelas. “Jadi, namanya Wim” gumamku.
***
            “Anna!” aku memutar leherku 90 derajat.
            Wim menghampiriku. Sudah seminggu aku disana, dan ia salah satu laki-laki yang menarik perhatianku. Aku hanya heran, kenapa pada hari itu semua murid menatapnya saat dia bertanya tentang asalku.
            “Pulang bareng ya.” katanya memegang pundakku.
            Aku mengangguk lalu berjalan beriringan dengannya. Tempat tinggal kami tak jauh.
            “Wim, kenapa sih mereka liatin kita kayak gitu?” tanyaku keheranan sambil mengamati mereka-mereka yang menatap bingung kearah kami berdua.
            Wim hanya tersenyum.
            “Wim?” tanyaku sekali lagi.
            Wim tetap hanya tersenyum.
            Aku bingung. Sebenarnya, inilah yang membuatnya menarik bagiku. Aku penasaran siapa dia sampai-sampai sekadar menyapaku pun, seisi kelas sudah terkejut.
***
            “Ra, kamu tau nggak sih kenapa tiap aku lagi sama Wim semua orang pada ngeliatin kami?” tanyaku disela-sela meneguk es teh manis yang baru diantar oleh Mbak Ginar, penjual es di kantin sekolah.
            “Wim itu sahabat Gisel. Lebih dariku. Dia sama Gisel itu temen kecil, jadi kemana-mana pasti sama Wim, lebih kayak pacaran, Na. Tapi, sejak Gisel hilang, Wim berubah banget. Dia jadi suka menyendiri gitu dikelas, dia juga sering bolos, nilai-nilai dia juga turun drastis.”
            Aku tertawa kecil. “Jadi cuma gara-gara perempuan? Apa orang tuanya nggak marah sama dia?”
            Tarra menggeleng, “Dia tinggal sama adeknya doang, orang tuanya udah meninggal, kecelakaan. Satu-satunya orang yang bikin dia bisa bangkit dari keterpurukan itu ya cuma Gisel. Gisel juga pernah nyelametin dia pas tenggelam waktu kita liburan bareng.”
            Aku terdiam. Wajar saja Wim sangat terpuruk saat Gisel hilang. Wajar juga kalau semua orang heran melihat dia yang sudah berubah lagi. Karena kalau aku ada diposisi mereka juga aku bakal bingung. Wajah sama bukan berarti orang yang sama, kan? gumamku dalam hati.
            “Anna!” pekik seseorang dari lapangan.
            Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum kearahnya. Wim menghampiriku.
            “Pulang nanti aku ada ekskul basket. Kamu duluan aja.”
            Aku menggeleng, “Nggak ah, aku tunggu aja.” Sejujurnya, ada yang ingin kutanyakan pada Wim, tentunya tentang Gisel.
            “Ekskulnya satu jam setengah loh. Nanti kamu nungguinnya lama.”
            Aku sekadar tersenyum, “Nggak apa, Wim. Aku juga lagi kepingin baca-baca buku di perpus. Nanti aku tunggu disana aja ya.”
            Wim balas tersenyum. Kemudian ia menghilang dari pandanganku setelah Ryoto menarik lengannya mengajaknya kembali main volley.
***
            “Apa nggak bosen, Na?” tanyanya diperjalanan pulang.
            Aku menggeleng, “Oh iya, ada yang mau aku tanyain.”
            Langkah kami terhenti. Aku dan Wim memutuskan untuk duduk dulu disebuah taman komplek yang cukup sepi sore itu.
            “Ini tentang Gisel.” ucapku hati-hati.
            Aku melihat raut wajah Wim yang mulai berubah. Sebenarnya, aku agak takut memulai pembicaraan tentang Gisel dengannya, tapi apa boleh buat? Rasa penasaran sudah berkecamuk.
            “Apa?” tanyanya pelan.
            “Aku tau kalau aku dan Gisel punya wajah yang sama. Tapi kami bukan orang yang sama, Wim. Aku bukan Gisel.”
            Wim menggelengkan kepalanya.
            “Wim, kamu harus coba terima kenyataan kalau aku bukan Gisel. Aku tau itu pasti berat buat kamu. Tapi aku ngerasa kalau kamu deketin aku cuma karena aku mirip Gisel. Aku kadang ngerasa nggak jadi diri aku sendiri. Apalagi kamu sering banget manggil aku Gisel. Aku ngerasa aku bukan Anna.” keluhku masih secara hati-hati.
            Wim hanya terdiam. Dia sama sekali tak menanggapi ucapanku.
            Pembicaraan kami sore itu hanya sampai disana. Baik aku maupun Wim, sama sekali tak ada yang mencoba menghangatkan suasana yang dingin ini.
***
15 Februari 2013

            Satu bulan sejak aku pindah ke Bandung, aku semakin nyaman tinggal disana. Wim dan aku juga semakin dekat. Kami tak pernah lagi menyinggung tentang Gisel. Walaupun sebenarnya, aku tahu jelas, sesekali Wim seringkali tak sengaja menyebutku Gisel. Aku tak begitu mempermasalahkannya. Melihat Wim yang tersenyum kepadaku aku tak kuasa untuk memarahinya atau mencoba mengembalikan suasana seperti sore itu. Aku sepertinya jatuh cinta pada sosok Wim. Entah kenapa, aku merasa tak perlu menunggu lama untuk menerka isi hatiku karena setiap hari, dia selalu melintas dibenakku.
            Sampai hari ini tiba, dimana Wim akhirnya mengungkapkan semua rahasia tentangku yang bahkan tak kuketahui.
            “Anna..” ujarnya membangunkan lamunanku.
            Kami duduk disebuah café yang tak begitu jauh dari rumahnya. Café itu tak seramai biasanya, jadi kami merasa lebih nyaman.
            “Ya?” ucapku setelah meneguk secangkir kopi putih.
            “Selama ini, aku udah coba untuk menganggap kamu bukan Gisel, aku udah coba untuk lupain bayang-bayang Gisel dan menerima kenyataan kalau kamu adalah Anna. Tapi aku nggak bisa…” ujarnya agak lirih.
            Ia melihat kejalanan yang sedang sepi malam itu, kemudian meneruskan ucapannya, “Aku begitu risih dengan semua yang aku rasa, sampai aku harus mencari tahu semuanya.”
            Aku mengerenyitkan dahi. “Cari tahu apa, Wim?”
            “Bu Wanda, dia nggak pernah cerita apa-apa sama kamu? Tentang kamu?” tanyanya padaku.
            Aku membelalak. Wim pasti sudah tahu apa yang menimpaku 3 bulan yang lalu. “Tentang kecelaanku?”
            Wim mengangguk.
            “Kenapa? Kamu kaget ya? Aku bermaksud cerita kekamu disaat kamu udah bener-bener nganggep aku Anna, Wim.” ujarku dengan senyuman.
            Wim menggeleng. “Kamu Gisel, Na.”
            Aku lagi-lagi terbelalak. Cangkir kopi yang kupegang pun bahkan tanpa sengaja terjatuh begitu saja. Café yang tadinya sepi sekarang sudah gaduh karena kecerobohanku. Buru-buru aku meminta maaf dan pergi bersama Wim keluar café. Berjalan pelan menuju taman komplek.
            “Maksud kamu apa sih, Wim?”
            “Jujur deh, Na. Sejak awal aku sudah yakin kalau kamu itu Gisel. Hati tuh ngga pernah bisa bohong. Dia selalu nunjukin mana yang bener mana yang salah. Selama ini, aku nggak pernah sekalipun berpikir kalau Gisel bakal bener-bener pergi. Aku yakin dia pasti kembali. Dan bener..” katanya terputus oleh tawaku.
            “Apaan sih Wim? Kamu nggak usah bercanda deh. Nggak lucu. Jelas-jelas aku Anna kok. Kamu main gih sesekali ke panti aku. Liat foto-foto kecilku.”
            Wim menarik nafas pelan. “Itu bukan kamu. Bu Wanda bohong, Na. Kamu tahu kan kalau kamu lupa ingatan sejak kecelakaan yang kamu bilang itu?”
            Aku mengangguk. Benar, aku memang lupa ingatan. Tapi, Bu Wanda sudah menceritakan semuanya padaku. Mulai dari masa kecilku, alasan kenapa orang tuaku menempatkan aku dipanti, bahkan kecelakaan itu.
            “Bu Wanda udah cerita semuanya, Wim.”
            Wim menggeleng, “Dia cuma nggak mau kamu berusaha nginget apa yang nggak bakal kamu inget, Na!” ujar Wim agak kasar.
            “Apasih Wim? Aku lebih percaya Bu Wanda ketimbang kamu. Kamu aneh!” balasku membentak.
            “Na, percaya sama aku. Bu Wanda cuma nggak mau kamu lebih sakit. Dokter bilang, kalau kamu dipaksa nginget sesuatu dimasa lalu, kamu malah bakal tambah sakit. Jadi Bu Wanda mutusin untuk nggak maksa kamu nginget semuanya. Dan foto kecil kamu itu bukan kamu! Itu anaknya Bu Wanda yang udah meninggal, Na.”
            Aku hanya terdiam. Menggelengkan kepala dan tersenyum sinis kepada Wim. Omong kosong macam apa itu. Aku berdiri dan meninggalkan Wim secepat mungkin supaya ia tak meneruskan omong kosongnya itu.
            Sementara dari kejauhan, aku menoleh dan melihat Wim yang masih terduduk di bangku taman menundukkan kepalanya. Dia terlihat sedikit lemas, Ah entahlah! Aku tak memeprdulikannya.
            Aku bingung dengan semua yang Wim katakan. Aku tak percaya dan memilih untuk tak menanyakan apa-apa pada Bu Wanda. Sejak hari itu, Wim kembali seperti yang pernah Tarra ceritakan, dia hanya diam dan menyendiri. Aku pun tak ingin mencoba mengembalikan senyumannya. Aku terlanjur kesal dengan semua omong kosong yang ia katakan.
***
            “Anna…” panggil Bu Wanda yang sudah berdiri didepan pintu kamarku.
            Aku menoleh dan tersenyum lalu menghentikan alunan piano Yiruma dari handphone-ku. Bu Wanda duduk disebelahku, Ia membelai rambutku pelan tanpa berkata apa-apa.
            “Ada apa, Bu?”
            “Ibu kok nggak lihat Wim nganter kamu pulang lagi ya?”
            Aku tersenyum getir. “Lagi nggak akur, Bu.” jawabku singkat tanpa memberitahu alasan apa-apa, karna aku sama sekali tak bermaksud menanyakan omong kosong yang Wim katakan hari itu.
            Bu Wanda masih membelai rambutku pelan, ditatapnya mataku kemudian sebelah tangannya menyentuh pipi kananku.
            “Maaf, Gisel.” ucapnya mengagetkanku. Membuatku hampir jantungan. “Benar kata Wim, jadi kamu jangan marah sama dia.”
            “Ibu apa-apaan sih? Dia pasti minta tolong Ibu, ya. Udah ah, aku mau tidur, Bu.” ucapku ketus karena Bu Wanda juga mengatakan omong kosong ya sama.
            “Dia nggak bohong.” kata Bu Wanda sedikit lirih karena airmata nya mulai berjatuhan.
            Aku tak bermaksud menyakiti Bu Wanda dengan kata-kataku, aku menghapus air mata nya dan mencoba berpikir jernih atas apa yang baru saja Bu Wanda katakan.
            “Bu, aku bahagia kok jadi Anna. Ibu nggak perlu merasa bersalah.”
            Bu Wanda menggeleng, ia mengambil bingkai foto kecil foto masa kecilku bersamanya. “Namanya Diana. Anak Ibu satu-satunya. Ia seusia kamu, setahun yang lalu, ia meninggal, setelah operasi ginjal. Ibu masih belum bisa nerima kenyataan kalau dia udah nggak ada. Dan, 3 bulan yang lalu, Ibu menemukan kamu, kamu terdampar di pinggir sungai dekat panti. Awalnya, Ibu bermaksud pura-pura tak tahu karna ibu takut. Tapi, ibu kepikiran Diana, Ibu liat kartu identitas yang ada disakumu.” Bu Wanda menyodorkan sesuatu dari saku roknya. Identitas Gisel.
            “Ibu membawa kamu ke rumah sakit dan dokter bilang kalau kamu lupa ingatan. Tadinya, ibu bermaksud mengembalikanmu ke alamat yang ada di kartu identitas itu. Tapi setelah ibu kesana, tetangga disana bilang kalau orang tuamu baru saja meninggal…” Bu Wanda menangis semakin menjadi-jadi, kemudian ia menyambung ceritanya, “bunuh diri.”
            Aku tersentak kaget. Tak kusadari, air mataku mulai mengalir bulir demi bulir. Kutatap wajah Bu Wanda seakan tak percaya.
            “Ibu nggak pernah tega mengatakan semuanya sama kamu. Ibu juga nggak mau membuat kamu lebih sakit dengan memaksa kamu mengingat semuanya. Sampai akhirnya, Tuhan membalas Ibu dengan musibah untuk panti ini. Ibu ngerasa bersalah dan akhirnya memutuskan untuk pelan-pelan mengembalikan ingatan kamu dengan memasukkan kamu ke sekolah kamu yang semestinya. Ibu kira, kamu akan ingat pelan pelan.”
            Aku hanya terdiam, masih dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi. Bu Wanda pelan mengusap air mataku. Dia tahu kalau aku takkan sanggup berkata apapun saat ini. Dia pergi meninggalkanku dan aku mendengar samar-samar ditengah tangisku yang pecah kalau dia bilang “Maaf.”
            Aku tak bisa tidur malam itu. Aku hanya mengisi malam hari itu dengan tangisan. Seolah tak percaya dengan apa yang aku alami.
***
18 Februari 2013

            “Wim, aku mau bicara.” aku mengirimkan pesan singkat untuk Wim.
            Aku dan Wim sudah duduk bersebelahan disebuah bangku ditaman. Lagi-lagi, ditempat ini ada sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupku.
            “Aku… tolong bantu aku menjadi Gisel.” ujarku sambil memejamkan mata, takut melihat dunia yang semakin lama semakin mengungkap beribu rahasia.
            Wim tersenyum, ia merangkul pundakku tanpa berkata sepatah katapun.
***
15 Januari 2015

Hari ini, tepat 2 tahun aku tinggal di Bandung. Semakin lama, aku merasa semakin nyaman. Berkat Wim, semua yang terasa berat menjadi mudah. Aku hidup sebagai Gisel, dengan ingatan yang pelan-pelan mulai jelas dibenakku. Siapa orang tuaku, siapa teman-temanku, bagaimana kehidupanku. Aku sudah ingat semuanya. Dari kisah hidup yang semakin lama semakin jelas diingatanku, aku belajar bahwa benar apa yang pernah Wim katakan, “Hati tak pernah salah, hati akan menemukan yang benar meskipun semua mengatakan kalau itu salah. Karna hati melihat lebih dalam dari mata.” 

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


[Surat kecil dari Wim untuk Gisel yang tak pernah tersampaikan]
17 Oktober 2012 (hari pertama aku kehilanganmu)
Lucu ya? Aku laki-laki tapi lemah. Aku laki-laki yang cengeng. Menangis setiap malam setiap kali mengingatmu. Mereka bilang kamu sudah pergi, tapi hatiku yakin kamu masih ada. Sekalipun kamu pergi, kamu tetap ada buatku. Aku tak pernah menganggap kamu benar-benar pergi bahkan ketika aku harus menemui kenyataannya.

15 Januari 2013
Hari ini aku bertemu kamu! Hatiku benar!! Aku menemukanmu! Walaupun aku tak punya apa-apa yang bisa meyakinkan mereka kalau kamu adalah Gisel, tapi aku yakin karena lagi-lagi hatiku bilang kalau kamu Gisel! Aku percaya kalau suatu hari nanti hati akan menemukan kebenarannya.

15 Februari 2013
Hari ini aku coba menyampaikan rahasia tentangmu. Tapi, aku salah. Caraku salah, lagi-lagi aku salah. Apa yang harus kulakukan?

18 Februari 2013
The heart find the right! The heart never be wrong! I’ve got her back , I love you, Gisel!

15 Januari 2015
Tuhan menghadiahkan yang terbaik untuk umat-Nya. Thanks for the best gift I’ve ever had. I’ve found the right, God.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar