Rabu, 01 Juli 2015

Kala Rindu Menggema

Kopi yang kuseruput sahur tadi masih sedikit membekas di tenggorokan, pahit. Subuh ini, kembali kusapa Dia, dengan nama-nama-Nya, kulantunkan kata demi kata harapanku. Aku terpejam dalam keheningan subuh-kembali memimpikan apa yang tak kan pernah terjadi dalam realita..
Dalam mimpiku, aku bertemu dengan dia.. sosok yang menghilang seiring dengan hujan. Semuanya terasa kemarau.
Kubenamkan senyum dalam mimpi untuk sosok dia. Dengan setelan putih abu-abu, dia menyapaku, memberikan untaian kata-kata ditengah berisiknya hujan kala itu. Aku sayup sayup mendengar yang ia katakan, tanpa menjawab ucapannya, kubenamkan senyuman diwajahku sebelum punggungnya menghilang dalam bola mataku.

Hilang.

Gaduhnya suara benda itu menyadarkanku dari mimpi kecil tadi. Kusentuh benda itu dibeberapa tempat sebelum akhirnya suara gaduh itu hilang. Aku memerhatikan benda itu, berharap bunyi sahutan burung akan muncul dengan membawa pesan singkat sekadar ucapan selamat pagi atau semangat.


Kosong.


Tak satupun yang menghiasi benda itu, benda itu kini sunyi senyap. Kupandangi benda itu sesaat sambil melayangkan otakku dihujan kala itu.Kala itu, Dia mempertemukan aku dengan sosok yang sangat takkuduga. Aku selalu tersenyum kala ia merasuk dalam otakku. Kehangatan hujan bulan Desember lalu selalu jadi alasan mengapa aku menyukai hujan dan ... dia.
Seperti hujan, dia datang tiba tiba. Menuai benih benih kebahagiaan dalam jiwa yang hampa tak bernyawa.


Rupanya, langit yang gelap oleh tangisan alam membawaku pada rasa ini. Dimana raga ini sama sekali tak merasakan dingin meski hujan, dimana hati ini padat oleh sayap kupu-kupu. Saat itulah aku tersadar bahwa tak semua yang terlihat kelam itu menyesakkan. Berkat hujan-lah semuanya terjadi. Semua yang membuatku jatuh hati pada hujan.


Jatuh.


Lagi dan lagi, aku jatuh.
Kali ini langit tak sekelam yang lalu, merdunya kicauan burung dan sayup sayup suara angin tengah menghiasi telingaku. Tapi, kenapa sekujur tubuh ini malah terasa seperti bongkahan es? Kenapa hati ini malah terasa hampa ketika mata malah melihat padatnya hiasan langit kala itu?


Hampa


Musim hujan telah berganti menjadi kemarau. Sama seperti hati yang berganti menjadi mati. Hanya beberapa saat, sebelum semua berakhir. Hidup benar benar seperti sebuah roda. Hatiku berkecamuk penuh kebencian dengan roda yang membawa hatiku ke titik ini. Aku terlalu senang sampai ditik ini sampai-sampai aku tak sadar kalau aku baru saja jatuh. Roda itu tak kuat lagi berputar dengan cepat, semuanya berhenti dan berganti. Seperti hujan yang hilang ditelan kemarau, hatiku kering dan gelap bagai sumur yang buntu. Aku taktahu harus berpijak kemana. Aku hilang arah dan mencoba mencari celah celah untuk kembali berdiri namun tak satupun yang datang menopangku.


Semuanya hilang seketika.


Aku terbangun dari lamunanku. Kaki kananku mendahului kaki kiri melangkah menuju muka jalan. Duduk ditepian kursi putih taman kecil sambil sesekali merentangkan kedua tangan mencoba menikmati sejuknya pagi kemarau. Mencoba menghentikan nurani yang sejak lalu menggebu gebu ingin bertemu hujan di bulan Juni.

-untuk hujan yang benar benar tak mau menemuiku di bulan Juni, maka izinkanlah aku yang menghujani bulan Juni.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar