Kamis, 29 November 2012

Maybe..♥ #2


                Kembali, aku diam ditempat duduk. Menatap wajah papan tulis putih yang sudah menanti untuk diisi dengan beribu angka-angka yang tak jelas. Matematika.
                “Sel, kamu ngerti ga?” tanya Eka yang tepat duduk di belakang kursiku.
                Aku tak sama sekali bermaksud untuk menoleh ke belakang, hanya ingin menjawab pertanyaan Eka dengan menatapnya. Tetapi kenapa mataku tertuju kepada dia lagi? Kepada Joseph!
                “Aku ngerti dikit, ka.” Jawabku singkat sembari membalikkan badan dan tanpa kesadaran yang banyak aku merasa... sedikit kesal. Tunggu! Untuk apa aku kesal? Dia bukan siapa-siapa. HELLO! Ini real world Selline!!
                Ya, ada yang berbeda dariku. Aku merasa Joseph adalah suatu ancaman bagiku. Lagi, aku mencoba untuk menghilangkan pikiran kacau yang semakin melunjak didalam otak yang seakan beku sesaat. Untuk apa aku peduli tentangnya! Mau dia senyum kek, ketawa kek, atau ngobrol sama temennya, itu bukan urusanku!
                “Ca, pulang ga?” tanyaku saat bel pulang sekolah berdering keras.
                Rebeca satu per satu memasukkan buku ke dalam tas pink miliknya, Ia mengangguk. Ya, aku memang harus mengerti, Rebeca sedang dalam kondisi tidak baik. Ia baru saja putus dengan pacarnya, Javen yang sudah anniv sampai 4 bulan. Entah kenapa, aku merasa agak senang. Eh tunggu! Siapa Javen?

***
                Aku terbaring pulas dikamar bercat warna permen blaster, menghadap ke handphone china yang masih aku genggam, bersiap untuk mengganti musik mp3 yang sedang kuputar dari handphone itu.
                One message come!
                Sesegera mungkin aku duduk, mengamati isi pesan. Dari Joseph. Aku terbangun dari posisi pulas-ku dan secepat mungkin menekan satu per satu huruf di ponsel itu.
Joseph : Siang ;;)
Selline  : Siang.
Joseph : Lagiapa sell?
Selline  : Lagi denger lagu maroon5-payphone, kamu jos?
Joseph : Aku lagi denger lagu juga, lagu bruno mars-marry you, plus bales sms kamu. Hehe. Ohiya, aku mau ngomong sesuatu. Boleh?
Selline  : Apa?
(Aku berharap. Berharap dia akan kembali. Kembali untuk menjadi apa yang aku inginkan. Sekian.)
Joseph : Masalah seminggu lalu, aku ga marah, Cuma agak hurt aja. Tapi sekarang aku udah mendingan, jadi itu bukan masalah.
Selline  : Ohya? Hm, iyaJ lagian aku juga udah ga permasalahin lagi. Cuma temen-temen aja yang kadang agak ngeselin, hhe
Joseph : Sel..
Selline  : ya jos, apa?
SMS terakhir aku untuk Joseph hari itu. Entah kenapa dia tidak membalas pesan itu. Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya sedikit lega, setidaknya aku sudah resmi kembali berteman dengannya. Ya, sebatas teman pun tak apa. Tapi aku sedikit ragu, mungkinkah karna Melisa? Melisa yang kulihat sedang akrab bersama Joseph saat aku tak sengaja dan sama sekali tidak ingin untuk melihatnya.
***
                Satu bulan berlalu. Bulan Desember! Ya, aku suka desember, aku suka natal, aku suka hari ulang tahunku. Tapi aku tak merasakan semuanya bulan kemarin. Sampai saat tahun baru inipun aku hanya bisa terdiam dan terpaku menatap rintik hujan yang masih deras turun dari langit yang semakin gelap.
                Satu bulan lalu, saat dimana aku harus mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak ingin aku katakan untuknya. Maaf. Aku hanya bisa mengingatnya. Terlihat bodoh! Menyia-nyiakan apa yang ada. Ya, kurasa aku akan membaik. Membaik dan semakin membaik, setidaknya untuk saat ini aku harus bersiap untuk mengemas barang-barangku dan bersiap untuk menanti kemah. Kemah kesekian kalinya untukku. Ya, tentunya ada Joseph disana.
                “Sel, kemahnya berapa hari?” tanya Yayas yang berdiri sambil membantuku membawa tas kecil.
                “Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Panjang kan? Hhe” Aku mulai mengangkati barang-barang bawaanku kebagasi bus sekolah yang akan melaju setengah jam lagi.
                “Lama ya.. Bakalan micyumicyu deh akyuu. Hihi”
                “Tentunya ga mis sama aku kan Yas?” Joseph datang. Ikut terlibat dalam pembicaraanku dan Yayas yang tadinya hanya berdua. Entahlah, seketika aku merasa senang. Senang, aku sudah lama tidak mendengar suara Joseph secara jelas. Ya tentu saja karna aku tak pernah berbicara langsung dengannya sejak satu bulan lalu. Dan hari ini, aku cukup....... bahagia<3
                “Kumpul kumpul!! Bus mau berangkat!” pekik Rebeca kearah aku dan Joseph.
                “Bye bye ya cemaaan!!” Joseph melambaikan tangannya ke arah Yayas. Ya, Joseph memang cukup dekat dengan Yayas, selain karna masih satu keluarga, mereka memang sudah dekat. Satu sekolah selama 10 tahun.
                Bus sekolah yang melaju pelan mulai beranjak meninggalkan halaman sekolah. Menuju kawasan Bogor dan meninggalkan hiruk pikuk Jakarta yang semakin ramai. Aku duduk bersebelahan dengan Rebeca. Tak banyak yang ingin aku lakukan, terkecuali tidur.
                Waktu yang panjang.. Sangat panjang. Tepat pukul 5 sore, aku baru tiba di Bogor. Tentunya bukan di villa, tapi di suatu desa yang tidak terlalu terpencil. Mendirikan tenda, mencari kayu, menyiapkan masakan.. aku suka suasana itu..
                “Sel, bantuin cari kayu dong. Susah nih.” Ujar Javen yang sedang mencari kayu ke sela-sela pohon.
                Aku mengangguk. Ya, tentu saja, aku tak punya kegiatan lain selain itu.
                “Sel, udah nemu berapa?” tanya Joseph sambil mendongakkan kepalanya sedikit.
                Aku menggeleng, “satu pun belum, ehehe”
                Aku tahu, aku bisa melihat wajah kekesalan Javen waktu itu. Ditambah adik kelas yang dengan santainya bercerita dibawah pohon itu. Rasanya, ingin sekali Javen membanting kayu bawaannya itu didepan adik kelas yang super santai itu.
                “Aku dapet 1!!!” jeritku penuh semangat.
                “Baru satu aja kamu bangga. Bytheway, rebeca mana sel?” tanya Javen dengan wajah yang terlihat sedikit khawatir.
                Aku tersenyum getir. Ah tunggu! Aku? Getir? Tidakkah aku salah? “Aku ga tahu, tadi dia sama Pak Teguh ambil air. Emangnya kenapa?”
                Aku.. apa yang aku katakan? Untuk apa aku bertanya kenapa jika aku tidak ingin mendengar jawabannya!! Oh Lord.
                “Gak apa-apa, Sel.. kamu tahu?” Joseph meletakkan kayunya ketanah.
                “Apa?” 
                “Aku dan Rebeca balikan.” Ucapnya dengan seuntai senyum yang penuh haru. Ya, bisa kurasakan semua itu. Pantas saja, Rebeca memintaku untuk tidak tidur di bus tadi, pasti dia ingin menceritakan kalau ia sudah taken kembali. Hm.. tinggal aku disini sendiri dan sepi yang menemani.
                “Ohya? Selamat ya.” Jawabku agak miris. Ya, miris. Karna aku memang sedikit banyak masih menyimpan perasaan untuk Javen. Si ketua OSIS yang dulu.. pernah menjadi masa lalu-ku. Ah tidak tidak! Dulu ia hanya pernah suka padaku, dan bukan masa lalu-ku. Ah !!! kurasa aku ingin pulang saat ini! Bisakah kemah ini dipercepat.. Oh kamiisss!! Datanglah! Aku butuh pengganti hari ini, Aku benci RABU ! Aku benci!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

(Penjelas):
Javen adalah pacar Rebeca sekaligus ketua OSIS.. Dulu pernah menyukai Selline saat kelas 1 SMA. Tapi sekarang..... sepertinya.................tidak. Hanya saja Selline yang masih sedikit mengingatnya.

(flashback sesaat):
“Sel, kalo ada cowok pinter yang suka kamu, kamu terima?”
“Ehm, belum kayaknya. Kamu tahu kan aku belum suka pacaran-pacaran gitu. Jadi, nanti deh kalo aku udah mau, hehe”
“Termasuk kalo orang itu aku?” Javen melanjutkan mengetik proposal kegiatan OSIS-nya. Sementara Selline, diam dan berkata, “Haha, kau bercanda..Eh... eh..” dering ponsel Selline berbunyi, “kurasa mamaku menelpon untuk menyuruhku pulang, sampai jumpa Javen.”

                

5 komentar:

  1. Ini cetar loh :) ditunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  2. siapapun penulisnya, plis lanjutin ceritanya... pengen denger lanjutnnya

    BalasHapus
  3. Oke, bakal dilanjutin nanti:) makasih udah read semuanyaa:)

    BalasHapus
  4. gw sih ngrepnya si Selline nnti sama si Joseph ajadeh. tp kayaknya si Javen lbih baek. ah glauu! yg jls crtny bguess!!(y)

    BalasHapus